Andai kau jadi bunga' aku pasti jadi kumbangnya' . sepenggal lirik lagu dari BIP yang sangat tenar di zaman saat saya masih duduk di bangku sma seakan menggerakkan saya untuk melangkah dan mencari sebuah mata pena dan beberapa lembar kertas.
Teringat sangat jelas di otak kecil saya, masa di mana saya merasakan hal yang luar biasa saat saya pertama kali menggunakan hak saya sebagai warga indonesia, untuk ikut dalam pesta demokrasi pada tahun 2004 silam. Layaknya seorang anak berumur 5 tahun yang akan masuk sekolah pada hari pertama. Sayapun tak beda seperti itu. Mendatangi Tps dengan sangat semangat. Kala itu bertepatan dengan pemilihan presiden.
Sebenarnya apa sih keuntungan saya? Itulah yang kembali tertancap di pikiran saya. Yah...jika anda menggunakan hak suara, dan tidak golput, berarti anda adalah warga negara yang baik. Hahahaha....sangat lucu itulah stagmen sosialisasi yang sering di publikasikan KPU kala menjelang pemilu. Tapi saya pikir itu bukanlah kesalahan ataupun kebodohan.
Lepas dari pengalaman diatas, kini saya ingin menghabiskan tinta pena ini untuk menulis beberapa kejadian aneh dan memalukan yang terjadi saat ini, khususnya di tanah kelahiran kita ini Kota Kotamobagu.
Belum lepas dari ingatan kita, pemilihan pertama di kota ini, para calon walikota yang yang namanya sangat tenar, yang mempunyai posisi , jabatan dan kekuasaan yah wah....salah satunya Drs.H Djelantik Mokodompit, sekarang ada(ME) di belakangnya. beliau adalah mantan anggota DPR RI selama 2 Periode. ada juga nama Syahrial Damopolii yang saat itu menjabat sebagai Ketua DPRD Sulut,,,
sangat saya sesalkan, pilwako pada saat itu terkesan bukan merupakan ajang pesta demokrasi seperti yang yang di anggap.Masyarakat terkesan lebih menjadi budak politik tanpa mereka sadar. yah betul...permainan elit politikpun di mulai,,,istilah yang sering kita dengar dan sebut TS (Tim Sukses) bertebaran di setiap kelurahan di kotamobagu,,,pekerjaan dari TS ini sangat mudah,,,hanya dengan menjual calon yang di jadikannya majikan di lingkungan tempat dia bernaung. itulah mereka para pemburu kertas bergambar Soekarno-Hatta.
Di awal tulisan ini saya sempat menulis sepenggal lagu yang di latunkan grup band lawas BIP,,,yah.. mungkin itulah gambaran para calon walikota/legislatif di daerah ini pada saat akan mencalonkan diri. terlihat seperti sepasang kekasih yang baru berpacaran, saling mengisi satu sama lain , padahal di balik itu tak ada bedanya dengan film kartun Tom & Jerry,,pada saat itu memang tidak akan nampak tujuan apa yang sebenarnya mereka incar.
setahun setelah terpilih barulah nampak apa yang di namakan persaingan politik tingkat dewa ini,,,di awali dari kasus CPNS 2009,,,sangat meninggalkan luka bagi beberapa CPNS yang terpanggil tapi tidak terpilih. kekecewaan yang sangat dalam,,buah dari kekejaman politik.
Perceraianpun kembali terjadi tahun kemarin antara DB 1 K dan DB 5 K (saat ini jadi DB 2 K),,mantan anggota DPR RI sekaligus Walikota pada saat itu mimilih melepaskan diri dari pasangan sebelumnya,,begitu juga sebaliknya sang srikandi Ir. Hj. Tatong Bara meminang pasangan pilihannya.
pertarungan sangat seru terjadi di antara 2 kubu ini,,,antara sang tangan ringan pemberi SK mutasi dan sang srikandi yang rendah hati. pertarungan ini berjalan sangat panas saat masa kampanye. saling hujat antara massa pendukungpun menjadi hal yang Lazim di dengar,
akhir pertarungan ini pun di menangkan pasangan dengan jargon "TB-JADI'.
kita kembali di judul tulisan ini. keherananpun singgah di pikiran saya, apa yang dikejar manusia itu dalam pertarunggan politik ini? pentingkah sebuh jabatan jika hanya ingin membalas dendam dan menjaga gengsi sosial? seorang yang pada awalnya mempunyai jabatan yang sangat mantap tiba-tiba saja turun gunung demi keinginan mendapatkan kursi bupati. dua kali pertarungan pun harus tumbang dengan lawan yang sama.
setelah pemekaran beliau kembali bertarung untuk DB 1 K, akhirnya cita-citanya pun berhasil. Lima tahun pun lewat dengan kesan tidak ada keharmonisan politik antara kosong satu dan kosong dua.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar