Sabtu, 11 Juni 2016

Terimakasih Jempol


CAKRAWALATOTABUAN-Dalam keseharian kita, tidak lazim lagi didapati penggunaan ibu jari, yang tentunya sama-sama kita ketahui adalah jari jempol. Jempol adalah bagian organ tubuh manusia yang mempunyai nilai filosofi. Sebuah hal yang mutlak apabila kita tidak memiliki jempol kita tidak akan bisa menggenggam sebuah pegangan dengan kuat. Apalagi saat sekarang ini aktifitas manusia pada umumnya bertumpuh pada alat-alat dan barang-barang yang membutuhkan kontribusi jari jempol.
Contohnya penggunaan aplikasi yang sering di sebut Kekini-kinian oleh kalangan remaja saat sekarang. Ada pesan singkat milik Blackberry yaitu BlackBerry Messenger (BBM). Belum lagi aplikasi-aplikasi jebolan android dan berbagai gadget lainnya yang mutlak harus menggunakan jari jempol seperti mengetik Short Message Service (SMS) dan menelepon.
Singkatnya, tanpa jempol, kita tidak bisa menggenggam atau memegang suatu benda dengan kuat. Keberadaan jempol membuat empat jari lainnya lebih produktif. Maksudnya, jempol tidak akan kuat kalau hanya sendiri; demikian pula empat jari lainnya tidak kuat jika tanpa jempol;  karena itu, jempol merangkul empat jari lainnya untuk melakukan aktivitas secara  bersama-sama. Semua aktivitas yang dilakukan oleh jempol karena dorongan kemurahan hati (greatfulness) dan pikiran sehat (senses).
Berbeda lagi dengan simbol atau dalam keseharian kita didunia teknologi gadget. Jempol sering digunakan manakala kita menyukai sebuah status atau apa yang dipikirkan orang lain kemudian dituangkan dalam media sosial (Medsos). Jempol merupakan sebuah Emotion yang kerapkali digunakan untuk merespon sebuah status seseorang. Namun sulit dipahami apa maksud dari emotion tersebut.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) jempol (nyata) dimaknai sebagai Ibu dari jari tangan atau kaki. Sedangkan Jempolan berarti “sangat hebat” atau “bagus sekali” . Banyak hal selalu dihubungkan dengan jempol. Misalnya ancungan jempol (thumbs-up) sebagai tanda setuju. Jempol di arahkan ke bawah sebagai tanda tak setuju (thumbs down). Cap jempol (thumbprint) sebagai simbol penguatan, persetujuan atau pengesahan. Jempol dapat menggambarkan orang yang tidak berbuat apa-apa (twirl thumbs). Jempol dapat juga menyimbolkan hal yang janggal (all thumbs). Isapan jempol (figment) melambangkan orang yang suka berbohong.
Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada tanggal 8 Juni 2016, saya pribadi sempat menuliskan sebuah berita dengan judul ‘Warga kebanjiran, Sekot Angkat Jempol’. (Baca : http://www.bmrpost.com/2016/06/warga-kebanjiran-sekot-angkat-jempol/ ) . Saya selaku penulis berita tersebut mengakui jika ada kesalahan dalam penulisan tersebut, dimana saya menyisipkan opini saya sendiri terhadap makna dari Jempol yang disodorkan oleh sumber yang pada saat itu adalah Sekretaris Kota Kotamobagu, Tahlis Gallang. (Sekretaris Kota (Sekot) Kotamobagu saat dimintai tanggapan terkait hal tersebut malahan memberikan respon yang sangat mengagetkan. Dirinya malah memberikan isyarat senang dengan memberi Jempol saat dimintai tanggapan terkait kejadian dan keluhan warga tersebut). Seperti itu kalimat opini yang belakangan saya sadari merupakan sebuah kesalahan, karena mendikte apa yang dimaksudkan sang sekretaris kota. (maaf ya pak).
Berita tersebut berujung polemik dan mengundang reaksi dari teman-teman jurnalis yang ada di Bolaang Mongondow Raya (BMR). Ada yang memberikan kritikan yang membangun, namun ada juga yang sekedar membully (menghina). Kebanyakan memang menghina berita tersebut. Karena menurut kebanyakan mereka maksud dari Sekot adalah baik adanya, dan saya salah menafsirkan simbol yang diberikannya tersebut.
Tidak hanya sampai disitu, selang beberapa saat, sebuah blog tanpa identitas (entah apa yang disembunyikannya) juga turut menulis secara rinci dan memberikan kritikan yang menurut saya sangat pedas namun juga menjadi sebuah tambahan ilmu bagi saya pribadi. (Baca : http://buruhkata.blogspot.co.id/2016/06/dampak-buruk-lahirnya-media-sontoloyo.html ). Memang judul yang penulis berikan sangat mengiris hati (Berita Jempol Media Sontoloyo) . Sebelumnya si penulis di Blog tanpa identitas tersebut memberi judul “Dampak Buruk Lahirnya Media Sontoloyo”, namun mungkin menurutnya kurang Bombastis, hingga diubah lagi menjadi “Berita Jempol Media Sontoloyo”. Namun saya salut, banyak pengetahuan yang saya dapat dari tulisan pendek bermakna panjang itu.
Tapi mungkin saya akan membahas apa yang saya alami terkait respon menyudutkan yang saya rasakan dari teman-teman Jurnalis di BMR. Ada bebrapa dari komentar memberikan tanggapan jika maksud dari Sekot adalah sebuah respon yang baik manakala saya meminta tanggapan akan bencana dan keluhan yang dialami warga kompleks Sampana tersebut. Kebanyakan dari mereka menuding jika saya benar-benar salah dalam mengartikan maksud dari Sekretaris Kota, Tahlis Gallang. Dimana letak kesalahan respon yang diaberikan dan saya tuangkan dalam tulisan itu adalah salah.
Kita kembali lagi pada pemaknaan arti kata dan bagaimana penulisan dari simbol jempol tersebut. (Menurut saya) Jempol dapat digerakan atau di arahkan dalam lima arah. Masing-masing arah memiliki makna yang berbeda. Bila di arahkan ke dalam diri sendiri, artinya instropeksi diri. Bila di arahkan ke depan, artinya ada pengharapan.  Bila di arahkan ke belakang, artinya sebagai suatu peringatan. Bila diarahkan ke bawah, artinya orang yang melakukannya menganggap diri sendiri lebih hebat, bersikap, tidak bijaksana, dan merendahkan martabat orang lain. Bila diacungkan, artinya si pemilik jempol bersyukur kepada Tuhan, juga bisa dimaknai menggerakkan atau mengubah orang lain agar bisa menjadi orang yang maju, hebat, berpikiran positif dan terbuka.
Asumsi saya sendiri setelah mempelajari lebih lanjut makna dari simbol jempol setelah menyodorkan kalimat “Pak sek ada warga sampana kelurahan Kotamobagu meminta supaya bantaran saluran air yang ada di depan lorong SMAN4 agar di perlebar...karna menurut dorang (mereka) tiap (setiap) kali terjadi hujan ,air dari saluran air sering masuk ke rumah..dan hujan kemarin sampai merusak jalan utama..aspal di jalan tersebut sekarang rusak parah..hingga menggangu pengguna jalan” usai kalimat tersebutlah Sekretaris Kota memberikan simbol jempol. Dari pemaknaan acungan jempol itulah saya menulis isi berita dan beropini “Dirinya malah memberikan isyarat senang “(kesalahan saya beropini dan mendefinisan sendiri) jika Sekretaris Kota , Tahlis Gallang  senang dengan peristiwa tersebut.
Serba salah, jika saya memaknai lain. akan jadi, si pemilik jempol bersyukur kepada Tuhan(atas peristiwa tersebut) ataupun menggerakkan atau mengubah orang lain agar bisa menjadi orang yang maju, hebat, berpikiran positif dan terbuka karena peristiwa tersebut, berdasarkan makna dari apa respon yang dia berikan. Sementara saya juga akan melakukan kesalahan dan merasa mendustai diri sendiri, disaat saya menulis sebuah berita jika dirinya akan segera menindaklanjuti dan atau barangkali segera menggerakkan bawahannya untuk terjun kelokasi kejadian. Memang banyak penulis yang menulis apa yang tidak dikatakan seorang sumber, asalkan outputnya merupakan citra baik dari sang sumber. Tapi penulisan seperti itu saya rsa merupakan sebuah keharaman . Haruskah saya menulis apa yang tidak dirinya katakan, namun melakukan dusta pada diri sendiri dan publik ?.
Saya juga sempat merasa kecewa saat akun Media Sosial BMRPost harus diblokir oleh beliau. Padahal ada hal lain yang harus saya konformasikan. Ada apa? Kenapa harus diblokir ? mugkin dirinya punya alasan tertentu. Itu hak pribadinya sebagai pemilik akun. Namun selaku publik figur sekaligus pejabat, saya rasa masih memerlukan komunikasi dengan Tahlis Gallang terkait konfirmasi berita ataupun penyampaian hal-hal yang lain. Namun hal tersebut sudah terlajur terjadi. Tidak apalah, walaupun komunikasi saya dengan sekertaris kota saat itu hanya sebatas Media Sosial yang sekarang sudah diblokir.

Intinya, banyak pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan imbas dari pemberitaan tersebut, setidaknya saya akan lebih dewasa dalam menulis sebuah arikel. Kata terimakasihpun layak saya ucakan terhadap Sekretari Kota, teman-teman wartawan dan penulis, pemilik Blog Buruh Kata, serta semua yang mengkritisi saya hingga bisa lebih berpikir dewasa dalam menulis. Tidak lupa juga saya memohonkan maaf terhadap Tahlis Gallang, karena saya mengakui telah melakukan kesalahan dengan beropini dan memaknai sendiri arti simbol jempol yang telah diberitakan, yang pada akhirnya sempat disusul dengan pesan terakhir sebelum diblokir “Coba perhatikan jempol saya letakkan setelah habis penyampaian anda tentang keluhan mas bro.. saya berikan jempol pada anda karena telah menyampaikan masukan tsb,... kiapa ente salah artikan ?” (susulan teks pesan Tahlis Gallang) . Sekali lagi saya hanya bisa meminta maaf dan berterima kasih atas pengalaman yang berharga ini.