CAKRAWALATOTABUAN-Dalam keseharian kita, tidak lazim lagi didapati
penggunaan ibu jari, yang tentunya sama-sama kita ketahui adalah jari jempol. Jempol
adalah bagian organ tubuh manusia yang mempunyai nilai filosofi. Sebuah hal yang
mutlak apabila kita tidak memiliki jempol kita tidak akan bisa menggenggam
sebuah pegangan dengan kuat. Apalagi saat sekarang ini aktifitas manusia pada
umumnya bertumpuh pada alat-alat dan barang-barang yang membutuhkan kontribusi
jari jempol.
Contohnya penggunaan aplikasi yang sering di sebut
Kekini-kinian oleh kalangan remaja saat sekarang. Ada pesan singkat milik Blackberry yaitu BlackBerry Messenger
(BBM). Belum lagi aplikasi-aplikasi jebolan android dan berbagai gadget lainnya
yang mutlak harus menggunakan jari jempol seperti mengetik Short Message
Service (SMS) dan menelepon.
Singkatnya, tanpa jempol, kita tidak bisa menggenggam
atau memegang suatu benda dengan kuat. Keberadaan jempol membuat empat jari
lainnya lebih produktif. Maksudnya, jempol tidak akan kuat kalau hanya sendiri;
demikian pula empat jari lainnya tidak kuat jika tanpa jempol; karena
itu, jempol merangkul empat jari lainnya untuk melakukan aktivitas secara
bersama-sama. Semua aktivitas yang dilakukan oleh jempol karena dorongan kemurahan
hati (greatfulness) dan pikiran sehat (senses).
Berbeda lagi dengan simbol atau dalam keseharian kita
didunia teknologi gadget. Jempol sering digunakan manakala kita menyukai sebuah
status atau apa yang dipikirkan orang lain kemudian dituangkan dalam media
sosial (Medsos). Jempol merupakan sebuah Emotion yang kerapkali digunakan untuk
merespon sebuah status seseorang. Namun
sulit dipahami apa maksud dari emotion
tersebut.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) jempol (nyata)
dimaknai sebagai Ibu dari jari tangan atau kaki. Sedangkan Jempolan berarti “sangat
hebat” atau “bagus sekali” . Banyak hal selalu dihubungkan dengan jempol.
Misalnya ancungan jempol (thumbs-up) sebagai tanda setuju. Jempol di
arahkan ke bawah sebagai tanda tak setuju (thumbs down). Cap jempol (thumbprint)
sebagai simbol penguatan, persetujuan atau pengesahan. Jempol dapat
menggambarkan orang yang tidak berbuat apa-apa (twirl thumbs). Jempol
dapat juga menyimbolkan hal yang janggal (all thumbs). Isapan jempol (figment)
melambangkan orang yang suka berbohong.
Beberapa hari sebelumnya,
tepatnya pada tanggal 8 Juni 2016, saya pribadi sempat menuliskan sebuah berita
dengan judul ‘Warga kebanjiran, Sekot Angkat Jempol’. (Baca : http://www.bmrpost.com/2016/06/warga-kebanjiran-sekot-angkat-jempol/
) . Saya selaku penulis berita tersebut mengakui jika ada kesalahan dalam
penulisan tersebut, dimana saya menyisipkan opini saya sendiri terhadap makna
dari Jempol yang disodorkan oleh sumber yang pada saat itu adalah Sekretaris
Kota Kotamobagu, Tahlis Gallang. (Sekretaris
Kota (Sekot) Kotamobagu saat dimintai tanggapan terkait hal tersebut malahan
memberikan respon yang sangat mengagetkan. Dirinya malah memberikan isyarat
senang dengan memberi Jempol saat dimintai tanggapan terkait kejadian dan
keluhan warga tersebut). Seperti itu kalimat opini yang belakangan saya sadari
merupakan sebuah kesalahan, karena mendikte apa yang dimaksudkan sang
sekretaris kota. (maaf ya pak).
Berita tersebut berujung polemik dan
mengundang reaksi dari teman-teman jurnalis yang ada di Bolaang Mongondow Raya
(BMR). Ada yang memberikan kritikan yang membangun, namun ada juga yang sekedar
membully (menghina). Kebanyakan memang menghina berita tersebut. Karena menurut
kebanyakan mereka maksud dari Sekot adalah baik adanya, dan saya salah
menafsirkan simbol yang diberikannya tersebut.
Tidak hanya sampai disitu, selang beberapa
saat, sebuah blog tanpa identitas (entah apa yang disembunyikannya) juga turut
menulis secara rinci dan memberikan kritikan yang menurut saya sangat pedas
namun juga menjadi sebuah tambahan ilmu bagi saya pribadi. (Baca : http://buruhkata.blogspot.co.id/2016/06/dampak-buruk-lahirnya-media-sontoloyo.html
). Memang judul yang penulis berikan sangat mengiris hati (Berita Jempol Media
Sontoloyo) . Sebelumnya si penulis di Blog tanpa identitas tersebut memberi
judul “Dampak Buruk Lahirnya Media Sontoloyo”, namun mungkin menurutnya kurang
Bombastis, hingga diubah lagi menjadi “Berita Jempol Media Sontoloyo”. Namun saya
salut, banyak pengetahuan yang saya dapat dari tulisan pendek bermakna panjang
itu.
Tapi mungkin saya akan membahas apa yang
saya alami terkait respon menyudutkan yang saya rasakan dari teman-teman
Jurnalis di BMR. Ada bebrapa dari komentar memberikan tanggapan jika maksud
dari Sekot adalah sebuah respon yang baik manakala saya meminta tanggapan akan
bencana dan keluhan yang dialami warga kompleks Sampana tersebut. Kebanyakan dari
mereka menuding jika saya benar-benar salah dalam mengartikan maksud dari
Sekretaris Kota, Tahlis Gallang. Dimana letak kesalahan respon yang diaberikan
dan saya tuangkan dalam tulisan itu adalah salah.
Kita kembali lagi pada pemaknaan arti kata
dan bagaimana penulisan dari simbol jempol tersebut. (Menurut saya) Jempol dapat digerakan atau di arahkan dalam lima arah.
Masing-masing arah memiliki makna yang berbeda. Bila di arahkan ke dalam diri
sendiri, artinya instropeksi diri. Bila di arahkan ke depan, artinya ada
pengharapan. Bila di arahkan ke belakang, artinya sebagai suatu
peringatan. Bila diarahkan ke bawah, artinya orang yang melakukannya menganggap
diri sendiri lebih hebat, bersikap, tidak bijaksana, dan merendahkan martabat
orang lain. Bila diacungkan, artinya si pemilik jempol bersyukur kepada Tuhan, juga
bisa dimaknai menggerakkan atau mengubah orang lain agar bisa menjadi orang
yang maju, hebat, berpikiran positif dan terbuka.
Asumsi saya sendiri setelah mempelajari lebih lanjut
makna dari simbol jempol setelah menyodorkan kalimat “Pak sek ada warga sampana kelurahan
Kotamobagu meminta supaya bantaran saluran air yang ada di depan lorong SMAN4
agar di perlebar...karna menurut dorang (mereka) tiap (setiap) kali terjadi
hujan ,air dari saluran air sering masuk ke rumah..dan hujan kemarin sampai
merusak jalan utama..aspal di jalan tersebut sekarang rusak parah..hingga
menggangu pengguna jalan” usai kalimat tersebutlah Sekretaris Kota
memberikan simbol jempol. Dari pemaknaan acungan jempol itulah saya menulis isi
berita dan beropini “Dirinya
malah memberikan isyarat senang “(kesalahan saya beropini dan mendefinisan sendiri) jika
Sekretaris Kota , Tahlis Gallang senang
dengan peristiwa tersebut.
Serba salah, jika saya memaknai lain.
akan jadi, si pemilik jempol bersyukur
kepada Tuhan(atas peristiwa tersebut) ataupun menggerakkan atau mengubah orang
lain agar bisa menjadi orang yang maju, hebat, berpikiran positif dan terbuka karena
peristiwa tersebut, berdasarkan makna dari apa respon yang dia berikan. Sementara
saya juga akan melakukan kesalahan dan merasa mendustai diri sendiri, disaat
saya menulis sebuah berita jika dirinya akan segera menindaklanjuti dan atau
barangkali segera menggerakkan bawahannya untuk terjun kelokasi kejadian. Memang
banyak penulis yang menulis apa yang tidak dikatakan seorang sumber, asalkan
outputnya merupakan citra baik dari sang sumber. Tapi penulisan seperti itu
saya rsa merupakan sebuah keharaman . Haruskah saya menulis apa yang tidak
dirinya katakan, namun melakukan dusta pada diri sendiri dan publik ?.
Saya juga sempat merasa kecewa saat akun Media Sosial
BMRPost harus diblokir oleh beliau. Padahal ada hal lain yang harus saya
konformasikan. Ada apa? Kenapa harus diblokir ? mugkin dirinya punya alasan
tertentu. Itu hak pribadinya sebagai pemilik akun. Namun selaku publik figur
sekaligus pejabat, saya rasa masih memerlukan komunikasi dengan Tahlis Gallang
terkait konfirmasi berita ataupun penyampaian hal-hal yang lain. Namun hal
tersebut sudah terlajur terjadi. Tidak apalah, walaupun komunikasi saya dengan
sekertaris kota saat itu hanya sebatas Media Sosial yang sekarang sudah
diblokir.
Intinya, banyak pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan
imbas dari pemberitaan tersebut, setidaknya saya akan lebih dewasa dalam
menulis sebuah arikel. Kata terimakasihpun layak saya ucakan terhadap Sekretari
Kota, teman-teman wartawan dan penulis, pemilik Blog Buruh Kata, serta semua
yang mengkritisi saya hingga bisa lebih berpikir dewasa dalam menulis. Tidak lupa
juga saya memohonkan maaf terhadap Tahlis Gallang, karena saya mengakui telah
melakukan kesalahan dengan beropini dan memaknai sendiri arti simbol jempol
yang telah diberitakan, yang pada akhirnya sempat disusul dengan pesan terakhir
sebelum diblokir “Coba
perhatikan jempol saya letakkan setelah habis penyampaian anda tentang keluhan
mas bro.. saya berikan jempol pada anda karena telah menyampaikan masukan
tsb,... kiapa ente salah artikan ?” (susulan teks pesan Tahlis Gallang) .
Sekali lagi saya hanya bisa meminta maaf dan berterima kasih atas pengalaman
yang berharga ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar