Senin, 28 April 2014

Membaca Dan Menulis di Kegelapan ( bukti kegagalan PLN )




Saya menuliskan blog ini tanpa penerangan
sama sekali, hanya mengandalkan cahaya
monitor lcd hanphone dan berharap
batrenya tidak keburu habis. Tidak sehat bagi
mata, memang, tetapi apalagi yang bisa
dilakukan dalam gulita ini dengan hati yang
kesal dan marah ?
Lampu senter LED yang didayai oleh batre
rechargeable yang digunakan dari dua jam tadi
sebagai penerang sudah padam. Mau
menyalakan lampu teplok sudah enggan karena
semprongnya cepat menjadi hitam kelam dan
apinya berkobar liar akibat (diduga) minyak
tanah yang jadi bahan bakarnya dicampur
dengan solar. Sementara di kiri kanan,
terdengar deru generator milik tetangga dan
asapnya masuk melalui jendela, menyebabkan
rasa mual dan sedikit pusing. Di seberang jalan
toko ritel juga menyalakan genset dan terlihat
terang, tetapi kebanyakan rumah tampak gulita
atau hanya diterangi cahaya buram.
Itulah yang sedang saya alami saat ini dan itu
sudah jadi rutinitas harian. Pemadaman di
daerah kami lazimnya terjadi malam hari sekali
selama minimum 3 jam, tetapi kadang-kadang
juga mendapat bonus pemadaman pada pagi
hari dengan durasi yang hampir sama. Anak-
anak terganggu jam belajarnya, dan malam
menjadi saat yang menyebalkan ketika udara
panas menyengat, nyamuk mengerubung dan
tak ada kipas yang bisa dinyalakan.
"Masih mendingan kamu", kata temanku,
"padam hanya sekali sehari. Kami minimum
dua kali sehari, dan terkadang tiga kali."
Itu jadi ungkapan yang teramat sering
terdengar belakangan ini. "Mendingan" : kata
hiburan bagi sesama pesakitan di penjara
energi yang dibuat oleh PLN. Memang benar,
mendapat giliran pemadaman listrik sekali
sehari menjadi suatu keistimewaan di tengah-
tengah para pelanggan lain yang mengalami
penderitaan lebih parah. Tapi, itu tidak
mengurangi nestapa yang mendera akibat
tingkat pelayanan penyedia listrik yang luar
biasa buruk ini. Kurangnya pasokan dari
pembangkit membuat PLN harus melakukan
load shedding (pelepasan sebagian beban); itu
artinya, sebagian pelanggan tak mendapat
pasokan daya. Pelepasan beban listrik dapat
diterjemahkan sebagai penumpukan beban
hidup tanpa aliran listrik secara bergiliran bagi
para pelanggan.
Apakah yang bisa dilakukan terhadap PLN
dengan kelakukannya ini ? Berbagai elemen
masyarakat sudah memprotes, bahkan
mengajukan gugatan ke pengadilan dengan
dukungan anggota DPRD dan DPD. Tapi, PLN
bergeming. Konon mereka sudah menyewa
genset, sudah mempercepat pembangunan
pembangkit baru, sudah mengatur jadwal
pemeliharaan pembangkit dan jaringan,
dan...entah apa lagi. Yang jelas, pemadaman
terus berlanjut. Apakah guna sejumlah "konon"
dan janji manis apabila situasi tak berbeda
dengan atau tanpa "konon" dan janji manis ?
Bukankah itu hanya menambah kemuakan
terhadap mereka yang tanpa malu bertahan di
jabatan masing-masing meskipun tanpa
prestasi ?
Sungguh menyedihkan menjadi konsumen yang
harus tunduk pada apapun yang dilakukan oleh
produsen. Tidak ada kontrak yang melindungi
konsumen untuk mendapatkan kualitas dan
keandalan layanan yang jelas ukurannya
(seperti Loss of Load Probability). Semuanya
sesuka produsen, itu sudah anugerah yang
disediakan oleh sistem monopoli. Konsumen
tak bisa pindah ke penyedia layanan listrik lain.
Oh, tentu saja bisa sediakan listrik sendiri : beli
genset, beli solar atau bensin, dan tada.... tak
perlu tergantung pada PLN lagi. Begitukah?
Tentu saja bisa begitu, jika mau menerima
jawaban tolol. Hanya di tempat yang terpencil
orang-orang menggunakan generator kecil
berbahan bakar minyak yang sangat tidak
efisien untuk menyediakan energi secara rutin.
Kegagalan PLN menyediakan listrik dengan
tingkat ketersediaan dan keandalan yang tinggi
adalah kegagalan menyediakan salah satu
infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendorong
pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan
penduduk. Persoalan kegagalan PLN ini
bukanlah soal sederhana, tetapi kegagalan
negara untuk memenuhi kebutuhan mendasar
bagi masyarakat.
Listrik adalah kebutuhan esensial bagi
masyarakat modern. Meminta masyarakat
bertoleransi berbulan-bulan bahkan bertahun-
tahun dengan kondisi darurat listrik adalah
perilaku memalukan dan kebablasan dari para
pejabat yang berwenang. Perencanaan
penyediaan pembangkit serta jaringan
transmisi dan distribusinya bukanlah ilmu yang
sesulit meluncurkan roket ke luar angkasa.
Peramalan permintaan energi listrik jangka
panjang, menengah dan pendek adalah ilmu
yang sudah berumur puluhan tahun dan terkait
erat dengan aktivitas dan pertumbuhan
ekonomi, perkembangan demografi dan
penggunaan ruang. Pendugaan pola beban juga
tak serumit meramalkan harga saham,
sehingga menduga total kebutuhan energi dan
daya puncak yang harus disediakan juga
bukanlah soal yang luar biasa sulit.
Lalu mengapa krisis listrik terus terjadi?
Kefasihan mencari alasan yang menjadi bakat
alam para pemimpin negeri ini menyediakan
berbagai jawaban instan. Mulai dari kesalahan
pejabat masa lalu, harga jual listrik yang lebih
murah dari harga produksinya oleh PLN atau
pembeliannya dari IPP, subsidi listrik yang tak
memadai, tidak koperatifnya pemerintah
daerah, tidak koperatifnya masyarakat di
sekitar wilayah yang akan dijadikan lokasi
pembangunan pusat pembangkit, melunjaknya
para pemilik lahan yang akan digunakan
sebagai jalur transmisi atau distribusi,
dan...entah apa lagi. Jarang-jarang disebut
adalah korupsi yang terjadi di berbagai level
pejabat PLN, baik di pusat maupun di daerah.
Lebih jarang lagi disebut adalah
ketidakkompetenan para pejabat PLN.
Hidup di negeri di mana korupsi, kolusi dan
nepotisme masih merajalela dan para pejabat
tak punya rasa malu dan bersalah jika gagal
menjalankan tugas dan tanggung-jawabnya,
memang seperti hidup dalam zaman
kegelapan.
Itulah yang dirasakan oleh sebagian besar
penduduk di daerah dimana saya tinggal.
Padamnya listrik ini bagaikan metafora yang
menggambarkan gelapnya hati para pemimpin
negeri dan suramnya masa depan rakyat.
Sebagian rumah dan gedung yang sanggup
membeli generator dan membayar BBM-nya
masih bisa menikmati energi listrik dan
beraktivitas normal, sedangkan yang lain harus
berpuas diri dengan cahaya lilin, teplok atau
lampu senter; itu adalah metafor bahwa
cahaya dan harapan selalu tersedia bagi
segelintir mereka yang berpunya, sedangkan
kegelapan dan ketakberdayaan itu adalah
takdir bagi sang miskin.

Sabtu, 26 April 2014

Kemarin, Hari Ini Dan Hari Esok

Bunyi nyaring dari ketukan tiang penyangga untaian kabel listrik seakan menjadi hal yang lazim di dataran dumoga. Yah....benda itu seakan menjadi genderang yang di tabu saat perang akan di mulai.

Terngiang kembali di ingatan saya pada awal tahun 1995 , hari dimana seharusnya masyarakat bersuka karena datangnya tahun yang baru, . saya sangat kaget , karena pada saat saya masih berusia 10 tahun saya sudah menyaksikan pertikaian secara langsung terjadi didepan mata saya. Pecah sudah kerusuhan antara dua desa bertetangga antara desa pusian dan desa toruakat. Yang di dalamnya masih terdapat kekeluargaan yang sangat kental.

Setelah di telusuri, kejadian ini pecah karena hal yang sepele. Pengaruh mabuk yang berlebihan hingga menyebabkan kesalapahaman antara kedua belah pihak. Sungguh sangat di sesalkan. Nyawa kita di tukar dengan beberapa gelas alkohol.

Seorang polisi berpangkat bripda yang kebetulan adalah keluarga saya , tidak mampu meredam pertikaian tersebut. Enam butir peluru yang di kantonginya seakan tidak ada fungsinya. Suara teriakan histeris dari anak-anak dan kaum wanita seakan menjadi penyemangat untuk lebih maju kedepan mendapati maut. Satu demi satu korban mulai terkapar, teriakan pun makin riuh mengiang di telinga. Puskesmas yang ada di perbatasan kedua desa yang bertikaipun tidak bisa berbuat banyak , karena tenaga medis yang belum memadai dan tidak seimbang dengan jumlah korban yang terus bertambah.

Cerita tinggal cerita . kenangan pahit di masa itu ternyata hanya sepenggal kejadian yang terus terulang sejak masa lampau khususnya di dataran yang kaya akan padi tersebut. Sebelumnya kita juga pasti sering mendengar pertikaian antara imandi dan tambun, tonom dan ibolian, dan masih banyak lagi desa-desa di dataran tersebut yang mengalami hal yang sama.

Hari ini kembali terjadi kejadian yang sama, antara desa doloduo dan ikhwan. Penyebab dari pertikaian tersebut ternyata tidak ada perbedaannya dengan kejadian-kejadian sebelumnya.
Sungguh ironis buat saya. Apa sebenarnya yang terjadi di daerah dumoga? Di lihat dari kejadian hari kemarin dan hari ini, tidak memiliki keuntungan apa pun baik dari segi moril dan materil. Buah dari peristiwa-peristiwa tersebut hanya menghasilkan permusuhan turun temurun sampai ke anak cucu kita. Mendapati peristiwa kemarin dan hari ini banyak kalangan yang bertanya-tanya dan berargumen " kenapa kejadian yang sama tersebut selalu terulang?" seakan moto daerah sulawesi utara "torang samua basudara tidak diberlakukan di tanah ini."
Pertanyaan dan pernyataan yang wajib di pikirkan". Semua mempertanyakan hal tersebut. Ternyata semua orang merasa risih dan bosan dengan situasi seperti itu.

Apa yang akan terjadi di kemudian hari apabila tidak ada jalan keluarnya? Jawabanya adalah seperti yang terjadi hari ini.

Sayapun tertarik untuk coba menggali dan menelusuri hal-hal apa yang harus kita lakukan untuk mempersatukan daerah ini di esok hari.
Pertama, yang timbul di pikiran saya adalah' apakah dengan menciptakan lapangan kerja di daerah ini bisa membantu mengurangi kekacauan yang ada?
Kedua, apakah dengan meningkatkan kualitas pendidikan bisa juga berfungsi membuat ketenangan di dumoga?
Ketiga " tingkat keamanan seperti apa saja yang harus ada di tempat ini agar bisa menciptakan suasana yang kondusif?

Berangkat dari ke tiga pertanyaan tersebut, sayapun coba menjawabnya sendiri.
Pertama ' saya sadari ' lapangan kerja yang ada di daerah ini sangatlah minim, aktifitas mayoritas yang ada sebagai petani dan penambang , belum mampu menopang cara hidup yang memadai di setiap segi. Peran pemerintah sebagai pengendali dana daerah wajib memberikan dan menciptakan lapangan pekerjaan yang sesuai situasi daerah tersebut. Saya faktor ini bisa menjadi peran penting dalam mengurangi keadaan yang tidak selaras di daerah ini. Walupun hanya sedikit, tapi penting.

Kedua' tingkat pendidikan masyarakat di daerah ini perlu diarahkan ke tingkat yang lebih baik ' agar cara pikir dan cara pandang masyarakat yang ada di daerah ini akan menjadi lebih positif dengan wawasan pendidikan yang lebih baik. Karena data yang saya dapat , saat pertikaian pecah, yang dominan mengambil peran adalah mereka yang berusia 20 tahun kebawah. Yang seharusnya mereka-mereka ini adalah generasi yang akan menjadi penerus dalam membangun daerah.

Ketiga' bicara tentang tingkat keamanan ' saya belum pernah menarik dan mendapat kesimpulan kenapa tingkat keamanan di daerah konflik ini sangat memprihatinkan. Markas-markas pelindung masyarakat dan NKRI sama sekali tidak ada di tempat ini.ironisnya tempat-tempat yang seharusnya berada di dataran dumoga , di dirikan di daerah yang potensi konfliknya sangat kecil ,bahkan sampai saat ini pun saya belum pernah mendengar ada konflik di daerah tersebut.

Mungkin itu adalah hal kecil yang harus kita lakukan untuk meminimalisir konflik yang ada di dumoga bersatu.
Semoga tulisan ini bukan hanya sekedar bacaan belaka yang di nilai seperti dongeng, tapi marilah kita mengajak semua pihak untuk mengambil bagian dalam menciptakan hal yang kondusif di daerah kita.
Mototabian mototanoban mototompiaan.

(Oktavianus Singal)

                                           

Rabu, 23 April 2014

Perampok Kursi



Tanggal 9 april 2014 merupakan momentum bersejarah bagi masyarakat BMR . di mana pada hari tersebut masyarakat BMR bisa memberikan 1 kursi untuk DPD RI. Setelah data perhitungan dari 15 kabupaten /kota di sulawesi utara telah menentukan pilihannya untuk menempatkan wakil kita yang kita kenal dengan nama Beni ramdhani sebagai motor aspirasi rakyat bolaang mongondow raya di DPD RI 5 tahun ke depan.

Sayang perjuangan ini belum selesai ,posisi beliau yang ada di 4 besar perolehan suara setelah Maya Rumantir, Ariyanti Baramuli dan Fabian Sarundajang, terancam bisa di manipulasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, saya berani mengeluarkan opini seperti ini berdasarkan fakta dan pengalaman yang ada,. Teringat 10 tahun silam, dimana pada saat itu , masyarakar BMR sudah bergembira karena sudah pasti menempatkan alm.Hi.Djambat Damopolii sebagai salah satu calon DPD RI terpilih untuk mewakili Masyarakat BMR, namun hasil suara tersebut ternyata bisa di manipulasi dengan sangat mudah tanpa ada perlawanan dari masyarakat kita. Hanya sosok yang akrab di sapa bung beni yang berani mengaung di jalan raya kota manado demi membentangkan protes atas perlakuan yang dilakukan oknum-oknum hina tersebut. Tapi apa bisa di kata pemimpin-pemimpin bajingan itu memposisikan masyarakat kita di telapak kaki mereka. Seakan tidak mempunyai harga diri. Demi mempertebal kantong haram mereka , oknum dan lembaga yang terhormat di mata para pencuri itu bersedia melakukan manipulasi. Dengan mengabaikan undang-undang yang ada. Yah benar !yang terjadi saat itu bukanlah mengagungkan filosopi 'maju tak gentar membela yang benar' tapi, ' maju tak gentar membela yang BAYAR'. Biadab sungguh biadab.

Tutup mata dan telinga anda jika anda bukan masyarakat BMR , tidurlah di bawah telapak kaki mereka jika anda merasa tidak memiliki harga diri.
Saat mereka mengaungkan perang harga diri dengan kita, apakah anda hanya akan diam dan menjadi budak demokrasi biadab selamanya?
Cukup, cukup ,cukup .selama ini kita terdiam dalam belenggu para perampok kursi yang seharusnya menjadi hak kita.

Puluhan tahun tanah kita menjadi penyangga hidup masyarakat sulawesi utara , puluhan tahun juga kita di fitnah dan di tuduh menjadi pencuri di tanah sendiri. Emas dan padi yang menjadi kebanggan kita telah dicuri. Inilah saatnya saudaraku!

Mari, mari, mari, !!! saya mengajak kita semua , buka mata dan telinga kita, keluarlah dari telapak kaki mereka, tendang para perusak daerah kita, singkirkan para pemburu rupiah itu dari tanah kita yang tercinta TOTABUAN. Buat mereka gemetar , buat mereka takut,. Naikkan harga diri kita sebagai masyarakat BMR yang berani mengaungkan kebenaran demi anak dan cucu kita.

Bunyi palu yang kita tunggu sudah di depan mata, jangan sampai cita-cita yang sudah dekat dengan genggaman tangan kita lepas. Mari kita tempatkan Beni Rhamdani sebagai aktor yang mewakili BMR di DPD RI . karena hanya dengan adanya beliau , kita bisa mendengar bunyi palu yang kita tunggu selama ini. Yah bunyi palu pengesahan propinsi BMR.

Saya percaya dengan hanya bermatakan tekad dan keberanian sebagai pemuda Totabuan, InsyaAllah saudara-saudara bisa mencicipi hasil perjuangan kita di hari esok.
Merdeka..merdeka.....

Octavianus singal.



Selasa, 22 April 2014

Hasil Pleno KPU KK untuk DPRD Kota Kotamobagu

KOTAMOBAGU – Pleno rekapitulasi perolehan suara pemilu legislative 9 April 2014, yang dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum Daerah Kota Kotamobagu (KPUD KK) telah berakhir.
Pleno yang dimulai pada Minggu 20/04/2014 dan selesai pada Senin 21/04/2014 dinihari ini berjalan lancar.
Berikut adalah perolehan kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kota (DPRD KK)  berdasarkan hasil pleno tersebut
Kotamobagu


Dapil I (Kotamobagu Timur-Utara):
1.Ahmad Sabir-PAN
2.Arman Adati-PAN
3.Alfrits N Paat-PAN
4.Herdy Korompot-Golkar
5.Riana S  Mokodongan-Golkar
6.Adrianus Mokoginta-PDIP
7.Feiba A.J Tumundo-Gerindra
8.Danny I Mokoginta-PKB
9.Ishak Sugeha-Demokrat
10.Agus Suprijanta-Hanura

Dapil II (Kotamobagu Selatan)
1.Bob Paputungan-PAN
2.Mulyadi Paputungan-Demokrat
3.Yusran Mokolanut-PKB
4.Rendi Mangkat-Golkar
5.Meydi Makalalag-PDIP
6.Kadir Rumoroy-PKS

Dapil III (Kotamobagu Barat)
1.Steward Adityo Pantas-PAN
2.Beggie Gobel-PAN
3.Fachrian Mokodompit-Golkar
4.Djelantik Mokodompit-Golkar
5.Suharsono Marsidi-Hanura
6.Diana Roring-PDIP
7.Reggie Manoppo-Demokrat
8.Herry Frangky Coloay-Gerindra
9.Jufri Limbalo-PKS

Sumber: KPUD Kotamobagu

Sebuah batu kecil ...


"seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat pada tembok yang sangat tinggi. pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada kawan kerjanya yang berada di bawah.
Pekerja tersebut berteriak - teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Oleh karena itu, untuk menarik perhatian temannya yang berada jauh dibawahnya, ia mencoba melemparkan koin uang logam didepan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang logam tersebut lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama.

Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya kearah teman yang ada di bawah. Batu itu pun jatuh tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya yang dibawah menengadahkan kepala keatas. Sekarang pekerja tersebut dapat memberikan pesan catatan kepada kawannya di bawah."

________

Tuhan kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. seringkali Tuhan melimpahkan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepada-Nya.

Sahabatku,,,"batu kecil" yang dilemparkan tadi bisa jadi merupakan peringatan kepada kita agar kita tidak selalu "sibuk" dengan urusan-urusan dunia...hm....terkadang kitapun selalu "lupa" bersyukur kepada Nya,,,"koin-koin" yang awalnya dilemparkan tersebut merefleksikan rahmat, rejeki, kesempatan, kelegaan, kesehatan, kemudahan, tetapi itu terkadang tidak membuat kita "menengadah" kepada Nya...akhirnya Tuhan melemparkan sebuah batu kecil kepada kita,,, [SUMBER MARIO TEGUH]

semoga dengan ini menjadikan kita Hamba-Hamba yang pandai mensyukuri Nikmat-Nikmat-Nya,,,dan walau kita ditimpa "batu kecil" kita tetap sabar,berdoa dan berharap Allah berbuat demikian karena Dia merencanakan kebaikan buat kita kelak,,,dan menjadikan kita manusia yang bertaqwa ... aamiiin ...

Sejarah Bolaang Mongondow

Mitologi Dan Asal-Usul Masyarakat Bolaang Mongondow.

.Asal-Usul Penduduk-
Hikayat yang berkembang secara turun temurun tentang asal usul manusia yang mendiami daratan Bolaang Mongondow, Berawal dari masa terjadinya kenaikan permukaan air, Sehingga hampir semua daratan tenggelam tertutup air. Menurut hikayat ini, Pada waktu itu terjadilah air pasang yang melanda semua daratan dan membenamkannya dibawah permukaan air. Sehingga, yang tersembul tinggal satu tempat yang dikenal dengan gunung Komasaan atau Huntuk, Yang dikala itu termasuk puncak yang tertinggi. Tempat ini sekarang disebut Huntuk Baludaa dihulu sungai Ilanga sekitar 40 Km dari Bintauna.
Pada masa itu, yang mula-mula tinggal disana satu-satunya manusia bernama Gumolangit atau Budolangit, Yang artinya manusia turun dari langit.
Sekali waktu Gumolangit berjalan mengelilingi gunung sambil menyusuri pantai, Tiba-tiba tampak olehnya seorang laki-laki ditengah laut yang sedang berjalan diatas ombak menuju ke pantai. Setibanya di pantai,pecalah ombak dan bertepatan dengan itu, muncullah seorang wanita dari pecahan ombak tersebut.Jadi, saat pendatang asing itu melangkah kedarat, ombak besar menghambur ke pantai dan dari pecahan ombak ini muncul pulah seorang wanita. Karena itu, Gumolangit menamakan Laki-laki itu “Tumotoi Bokol”, yang artinya meniti pada ombak. Sedangkan si wanita dinamakan “Tumotoi Bokat”, artinya keluar dari pecahan ombak.
Kemudin Gumolangit meneruskan perjalanannya di tepi laut hingga ia merasa lelah dan haus. Tiba-tiba ia melihat seruas bambu. Setelah di amat-amati, ternyata bambu tersebut tidak mempunyai ruas. Sepotong bambu itu merupakan pipa yang ujung ruasnya tidak berbuku. Diambilnya bambu itu dan menujulah dia ke suatu sumber mata air yang mengalir dari celah_celah batu.
Ketika hendak mengisi air, Tangan Gumolangit yang satu dipakai menutup ujung bambu bagian bawah, agar tidak terbuang. Setelah bambu terisi penuh, Gumolangit hendak meminumnya. Namun terjadilah suatu keajaiban. Dari bambu itu tak setetes pun air yang keluar untuk dapat diminum. Beberapa kali dia berusaha menuangkan air ke mulutnya. Tetapi air itu tidak pernah keluar dari bambu.
Sementara Gumolangit terheran-heran dan bertanya-tanya tentang ihwal kejadian itu, Tiba-tiba potongan bambu itu pecah berserakan dan secara ajaib berdirilah seorang perempuan di depannya. Karena terkajut, sampai-sampai dia terlompat ke udara. Gumolangit menamakan perempuan ini “Tendeduata”, yang bermakna pujaan dewa.
Selanjutnya, keempat manusia ini tinggal bersama di puncak Gunung Komasaan. Kemudian mereka menjadi dua pasanga suami-istri Gumolangit-Tendeduata dan Tumotoi Bokol-Tumotio Bokat.
Beberapa waktu terselang, pasangan Gumolangit dan Tendeduata dikaruniai seorang anak perempuan cantuk yang diberi nama Dinondong (yang dieluk-eluk). Tumotoi tumotopi Bokol dan Tumotoi Bokat dianugerahi seorang seorang anak laki-laki yang di beri nama Sugeha.
Setelah dewasa- atas kesepakatan kedua orang tua masing-masing – keduanya di kawinkan. Dari perkawinan Sugeha dan Dinondong, lahirlah seorang anak laki-laki yang di beri nama Sinudu (penerus/penyusul). Ketika telah dewasa, Sindu kawin denga seorang perempuan yang bernama Golingginan (hidup sederhana).
Sinudu dan Golinggian beroleh anak perempuan yang dinamai Sampoto. Sampoto artinya ingin memperoleh wanita. Setelah mencapai dewasa, Sampoto kawin dengan Daliian (Daliyann = ingin mengulang kembali). Perkawinan mereka dianugerahi tiga anak masing-masing bernama: Pondaag, Daagon dan Mokodaag.
Pada usia dewasa, Daagon dikawinkan dengan Dampulolingdan tidak lama kemudian memperoleh anak: Silagondo.
Tahun-tahun terus berganti. Makin lama penduduk makin bertambah. Seiring pertumbuhan penduduk, permukaan air pun semaki surut dan bermunculan banyak daratan. Sejak itu, dimulailah persebaran manusia ke seluruh penjuru Bolaang Mongondow. Bahkan pada masa itu pilah, mulai terbentuk pemukiman-pemukiman (totabuan) baru yang satu sama lain saling berjauhan. Melalui perjalanan waktu, makin lama pertumbuhan pendudukmakin meningkat dan lambat laun manusia tidak saling mengenal lagi.
Ada yang menetap di tempat semula (Huntuk). Ada pulah yang menuju pantai Utara dan kearah pedalaman sebelah timur dan selatan. Yang menuju ke Utara mendiami tempat dan wilayah Pandoli, Sinumolantaan, Ginolantungan, Buntalo, Maelang dan lain-lain. Yang ke pedalaman dataran Mogutalong/dataran Mongondow, menuju Tudu in Passi, Tudu in Lolayan, Tudu in Sia, Polilian, Alot, Batunoloda, Batu Bogani dan sebagainya. Yang menuju ke pedalaman sebelah selatan mendiami tempa-tempat seperti Bumbungan, Mahag, Tabagolinggot, Tabagomamang, Siniyow, Dumoga Mointok, Dumoga Moloben dan lain-lain.
Tempet-tempet ini kemudian berkembang menjadi wilayah pemukiman yang luas. Denagan berkembangnya penduduk di masing-masing wilayah atau kelompok, mereka pun mengangkat kepala kelompok sebagai pimpinan yang berfungsi mengatur tata tertib kehidupan di pemukiman. Orang-orang yang di pilih biasanya mereka yang di nilai cerdik, kuat dan berani. Kepala-kepala kelompok atau pimpinan ini disebut Bogani (gagah dan berani).
Bogani-bogani yang terkenal dimasa itu antara lain: Bogani Damoluwo’ dan Pongayou di Tudu in Passi, Bogani Binongkuyu’ di Tudu in Bakid di Pontodon, Bogani Lingkit di Tudu in Yanggat dan Bogani Dondo di Tudu in Bilalang di Bilalang. Kemudian Bogani Mogedag dan Bogani Bulumondow di Tudu in Lolayan, Bogani Bolongkasi di Buluan, Bogani Rondong dan Bongiloi di Poliian, Bogani Manggopa Kilat dan Salamatiti di Dumoga Moloben, Bogani Amaliye dan Inaliye di Bumbungon, Bogani Damonegang di Tudu in Babo, Bogani Punu Gumolung di Ginolantungan dan sdebagainya. Sedangkan Bogani-bogqani wanita seperti: Salamatit dan Inaliye, kira-kira hidup pada abad XIII dan Inde’Dou’ pada abad XV.
Dapat di kemukakan di sini, hikayat persebaran penduduk yang berpindah menggunakan perahu yang mendarat di sekitar muara sungai Ongkag Lombagin dan sungai Sumoit di tempat-tempat yang kemudian dinamakan bangka’ dan panag. Perahu yang digunkan adalah sejenis perahu besar yang disebut bangka’ dan perahu yang lainnya disebut panag. Hikayat ini mempunyai muatan aspek histories yang sangat vital. Fakta empiris ini, antara lain, dapat menunjukan dan membenarkan dugaan bahwa di masa purba kala terdapat dua buah danau besat di pedalaman Bolaang Mongondow. Uraian ini di kutip dari penjelasan penerjemah buku Dunnebier, Mengenal Raja-raja Bolaang Mongondow(1998:88-90).
Penduduk yang dating dengan menggunakan bangka’ dan panag, mereka mendiami dataran disekitar dua sungai yang disebutkan diatas. Karena sering banjir besar, pemukiman bangka; dan panag ter ancam, baik oleh banjir itu sendiri maupun ancaman gelombang laut. Penduduk pindah menyelamatkan diri. Sebagian menyusuri pantai dan sebagian yang terdiri dari beberapa kelompok, memilih mencari tempat yang dirasakan lebih aman. Dengan bermodalkan keberanian, tekad dan semangat yang tinggi dengan di pimpim lepala kelompok, mereka mencari pemuliman baru dengan menyusuri aliran sungai menuju ke timur.
Kelompok-kelompok ini menyusuri sungaiOngkag Lombagin. Ketika tiba di tempat pertemuan (bersatunya) Ongkag Mongondow dan Ongkag Dumoga mereka terhenti, karena terjebak dalam hutan lebat yang dilingkupi barisan petunungan berlapis-lapis yang mengapit kedua Ongkag ini. Untuk dapat melanjutkan perjalanan, rombongan ini mengadakan peninjauan sambil menengok keatas (ilumangag), kearah gugusan pegunungan manakah yang harus di tembus. Ditempat ini pula berdirilah kampong yang sekarang bernama Langagon.
Perjalanan dilanjutkan mengikuti huku ongkag Mongondow dan tiba di tempat yang sekarang Desa Solimandungan. Konon, nama desa itu berasal dari kata “Pinolimanonan”, tolimanon yang artinya saling menunggu kawan atau anggota rombongan lain yang tertinggal di belakang. Kemudian kelompok berjalan terus sampai di tempat yang letaknya di Desa Komangaan sekarang ini dan beristirahat. Mereka merasa legah dan betah di tempat ini, “Noanga” (kinoangaan), yang menjelma jadi Desa Komangaan.
Rombongan selanjutnya menembus hutan rimba sambil memberi tanda dengan parang pada pepohonan yang dilewati, yaitu “Taga”, tempat yang sekarang di namakan Sinagaan. Taga’ merupakan penunjuk jalan bagi mereka yang berada di belakang.
Setelah berjalan beberapa hari, kelompok ini tiba di suatu tempat yang sekarang disebut Desa Muntoi. Nama Desa ini berasal dari kata “Noontoy”, dan bermaknah hasil jerih payah yang terkumpul selama dalam perjalanan.
Setelah melewati Muntoi, mereka dating ke lembah kecil yang terbenam di tengah-tengah pegunungan “Motuyobong” atau “Noilobong”, di tempat pertemuan kali Ongkag dan kali Lobing, di Desa Lobong sekarang. Dari sini pengembaraan ditengah hutan dilanjutkan mengikuti lereng “Nogalet” sampai ke atas puncak bukit “Otam”.
Otamon merupakan jenis tumbuhanyang dapat melukai tangan jika mencabutnya tidak hati-hati. Nama tempat ini sekarang berada di Desa Otam dan Desa Wangga. Wangga sebelumnya disebut “Ponugalan” dan berasal dari kata “Tugal” (lubang-lubang kecil) untuk menanam padi dengan menggunakan sepotong bambu atau kayu. Di Tudu Wangga ini pernah di temukan perahu yang di gunakan orang pada masa dahulu.
Lambat lain, seiring dengan pertambahan penduduk, rombongan pengembara ini mencari tempat pemukiman-pemukiman baru. Mereka menjadi kelompok-kelompok yang besar dengan tempat yang makin terpisah satu sama lain. Sehingga, munculnya pemimpin-pemimpin kelompok (bogani), makin menyemarakkan migrasi orang Bolaang Mongondow.
Bahkan lamban laun para bogani itu ,emjelajahi daratan Mongondow (asl kata: Momondow), yang artinya teriakan-teriakan panjang saling bersahutan sebagai tanda atau kode agar tidak kehilangan komunukasi satu sama lain ditengah-tengah daratan hutan belantara yang luas. Dilembah yang luas ini ditemukan banya kali-kali kecil, pohon sagu dan pohon dammar yang getah nya dapat dipakai untuk lampu atau penerangan. Pohon in I dinamakan “Damag-Talong”. Karena itu, dataran yang luas ini dinamakan :Lopa’ in Mogutalong”. Kini, dikenal sebagai wilayah Passi dan Lolayan.
Agaknnya, setelah Gumolangit kawin dengan Tendeduata, dan mendapat anak Dinondong di Huntuk, Baludaa di Bintauna, dia dating ke Dumoga. Seterusnya, kawin lagi dengan Sandilo di Bumbungon. Orang tua, kake dan nenek, bahkan leluhur Sandilo, tentu lahir dahulu dari Gumolangit. Masyarkat Bumbungon serta pemukiman-pemukiman di sekitarnya seperti Mahag, Tobago, Linggot, Tobagomamang, Siniyow, Dumoga mointok dan Dumoga moloben, penduduknya sudah berkembang demikian pesat. Akan tetapi, masi adah generasi yang lebih tua. Mereka seperti yang terdapat dan hidup di Bunbungon dan sekiternya pada abad sebelum atau sekitar panjajahan Portugis.
Salah satu bukti bahwa di bumbungon dan sekitarnya telah berkembang suatu kehidupan masyarakat yang luas, pada saat pecahnya selaput bayi yang bernama Mokodoludut. Orang-orang yang hiruk pikuk yang brlarian dating melahat dan gemuruh bunyi permukaan tanah dilewati kelompok-kelompok manusia dinamakan Mokodoludut, yang artinya menimbulkan gemuruh. Sebaliknya, bagaimana pertumbuhan keluarga Gumolangit di Huntuk dan sekitarnya, setelah Silangondo tidak ada lagi riwayat lanjutannya. Ini berarti bahwa pusat kehidupan masyarakat Bolalang Mongondow pada wakti itubukanlah di Huntuk, Baludaa Bintauna dan sekitarnya. Tapi konsentrasi dan pertumbuhan penduduk justru berkembang di Bumbungon dan sekitarnya. Karena penduduk sudah
berkembang luas, disinilah lahir Raja peertama Bolaang Mongondow itu. Kalau Gumolangit dan keturunan, baik di Huntuk Baludaa maupun di Bumbungon Dumoga, hidup dalam tahun 1200-san atau 1300-san, timbul pertanyaan siapa manusia atau dimana asal usul penduduk Bolaang Mongondow yang mendahului periode kehidupan generasi Gumolangit.
Menurut pendapat bahwa manusia atau penduduk Bolaang Mongondow yang hidup lebih awal dari dari masa kehidupan Gumolangit dan keturunannya, baik di Huntuk maupun di Bumbungon, adalah orang-orang atau penduduk Bolaang Mongindow yang hidup dimasa dataran Mongondow dan Dumoga masih berupa dua buah danau yang besar. Penduduk ini adalah mereka yang menggunakan perahu-perahu yang pernah di temukan di desa Wangga sekarang.
Dengan argumentasi ini, maka leluhurnya, putri Sandilo di Bumbungon maupun Gumolangit, bukanlah manusia pertama etnik Bolaang Mongondow. Manusia-manusia yang hidup dan mendiami Bolaang Mongondow pada masa dataran Mongondow ( Mogutalong) dan Dumoga masih merupakan danau, adalah orang-orang yang diperkirakan sebagai laluhur-leluhur penduduk asli Bolaang Mongondow. Kapan perioda keberadaan Danau Mogutalong dan Danau Dumoga, akan dapat di perkirakan setelah ada data terjadinya letusan dahsyat Gunung Ambang pada masa itu. Dan data ini akan dapat ditemukan dalam buku-bukugeografi dan sejarah.
Selanjutnya, tantang hikayat Tendeduata yang berasal dari pecahan Bambu Kuning. Karena sifat ceritanya yang bernada aneh,tentunya diperlukan pemahaman yang rasioanal. Bila di analisis secara nalar, maka konteks probabilitas yang dapat diterima akal sehat memperkirakan, Tendeduata sedang mempersembunyikan diri dalam rumpun Bambu ketika Gumolangit mengambil seruas bambu.
Tentang Tumotoi Bokol dan Tumotoi Bokat, keduanya di kategorikan sebagai bagian dari manusia pendatang (Imigran). Menurut sejarah penduduk Indonesia, asal usul mereka atang dari rumpun palae mongoloid di Indo Cina dan Asia Tenggara. Karena mereka tiba di daratan Bolaang Mongondow melalui laut, dinamakan Tumotoi Bokol dan Tumotoi Bokat.
Mengenai asal-usul penduduk Bolaang Mongondow banyak yang berpendapat bahwa mereka beasal dari Filipina, terutama dari pulau Mindanau. Dugaan ini diperkuat dengan data bahasa (bukan kesamaan bahasa)antara bahasa tagalong di Filipina dan bahasa Mongondow. Misaknya, kat-kata yang sama arti dan penggunaanya seperti: loluang (jalan), tondok (pagar), tubig (air), manuk (ayam), penghulu dan sebagainya. Kemudian, kalau dilihat dari aspek antropologis, strutur fisik antara orang-orang Mindanaudan Bolaang Momngondow, hampir tidak ada perbedaan yang menyolok.
Arus pelayaran manusia dari Filipina, khususnya dari Mindanau di sekitar penjajahan Portugis dan Spanyol baik sebagai nelayan maupun sebagai bajak laut, masih tetap tinggi hingga abad XV. Bogani-bogani Inde’ Dou’, Inde’ Dikin dan lainnya, adalah bogani-bogani yang antara lain, mempunyai tugas utama memberantas perampok dan perompak dari Mindanau. Sebagai suatu bukyi, saat Tadohe dan pembantunya mendarat di laut sekitar Desa Togid, pada awalXVI (1600), Inde; Dou’ hampir membunuhnya, karena disangkah perompak dari Mundanau.
Dou’ alias Inde’ Dou’, ketika itu merupakan pemimpin rakyat adalah seorang wanita yang mewarisi kekuasaan Punu’ Damopolii dan menguasai wilayah Minahasa Selatan, mulai dari Ratahan – Pontak – Buyat dan seluruh Kecamatan Kotabunan sekarang.
.Penyebaran Penduduk
Menurut riwayat, hubungan Bolaang Mongondow dan Minahasa sudah terjalin sejak dari masa purba. Puteri Punu’ Mokodoludut, yang bernama Ginsapondo, adalah perintis pertama yang dating ke Minahasa dan kemudian merupakan asal keturunan dari beberapa pemimpin dan tokoh-tokoh di Minahasa. Perpindahan Ginsapondo ke Minahasa, terjadi pada awal abad XV.
Kemudian menjelang akhir abad XV, Punu; Damopolii dikenal sebagai cucu Punu’ Mokodoludut, dating ke Minahasa dan kawin dengan Wulan Uwe Randen yang kemudian disebut Tende in Bulan atau Tendeduayo’.
Di Minahasa dikenal sebagai manusia perkasa dan dinamakan Ramopolii. Damopolii banya mengembara ke Minahasa Utara, Siau, Kema da Likupang. Dalam perjalanan pengembaraan sebagai kebiasaan orang-orang perkasa di zaman purba, diperkenankan untuk kawin yang di Mina-hasa disebut Tateon. Asal kat ini, tot berarti pegang. Nama-nama marga Ramopolii, Damopolii< Polii adalah nama marga yang kini masih berkembang di Minahasa, Biotung dan Manado.
Punu’ Busisi* adalah putra Punu’ Damopolii. Beliau mengikuti jejak ayah nya yang banyak mengembara ke Minahasa. Ia kawin dengan Limbatondo. Puterenya di beri nama Makalalo. Makalalo adalah asal nama minahasa. Konon, karena neneknya Minahasa. Setelah makalalo menjadi Punu’ menggantikan ayah nyak, iya kawin dengan puteri Minahasa Wulan Ganting-ganting dari Mandolang dekat Tateli. NAma-nama Makalalo, Lalo atau Lalu, adalah marga-marga yang kini tetap hidup di Minahasa dan daerah-daerah sekitarnya.
Setelah Punu’ Makalao digantikan putranya Punu’ Mokodompit, Mokodonpit kawin dengan Menggeyadi, seorang putrid berasal dari pulau Lembeh Minahasa, Kotamadya Bitung sejarang. Kemudian Mokodompit kawin dengan Gogune ke Sangir Talaut sekitar 1580.
Puteranya Tadohe lahir di sini dan kembali ke Bolaang Mongondow pada 1600. Turunan Mokodompit di Sangir Talaut, kini dikenal dengan Mokodompis. Kebudayaan kuna antara Bolaang Mongondow dan Sangir Talaut, dalam beberapa hal, ada kesamaan. Menurut sarasehan Budaya se-Sulawesi Utara1981, ada kata-kata yang mengandung kemiripan (kognat). Misalnya kabela (Bolaang Mongondow) dan kawela (Sangir Talaut) untuk alat tempat sirih. Alat kesenian pun ada kesamaan istilah seperti: rambabo, bansi dan tantabua. Tri Tayok banyak kesamaan dengan tari Gunde di Sangir Talaut. Bahkan mungkin nama tari Gunde ini di ambil dari nama istri Mokodompit, yaitu Gogunde.
Seorang putra Tadohe. Loloda Mokoagow menjadi Raja pada tahun 0650-1694. Loloda Mokoagow disebut Raja Bolaang Mongondow dan Minahasa. Karena, Minahasa berada di bawah kekuasaanya. Loloda Mokoagou di namakan juga Raja Manado. Bahkan leluhur Raja Loloda Mokoagow pernah menguasai Desa Bonton di Gorontalo (Valentijn, dalam Dunebier, 1983:27).