Sabtu, 26 April 2014

Kemarin, Hari Ini Dan Hari Esok

Bunyi nyaring dari ketukan tiang penyangga untaian kabel listrik seakan menjadi hal yang lazim di dataran dumoga. Yah....benda itu seakan menjadi genderang yang di tabu saat perang akan di mulai.

Terngiang kembali di ingatan saya pada awal tahun 1995 , hari dimana seharusnya masyarakat bersuka karena datangnya tahun yang baru, . saya sangat kaget , karena pada saat saya masih berusia 10 tahun saya sudah menyaksikan pertikaian secara langsung terjadi didepan mata saya. Pecah sudah kerusuhan antara dua desa bertetangga antara desa pusian dan desa toruakat. Yang di dalamnya masih terdapat kekeluargaan yang sangat kental.

Setelah di telusuri, kejadian ini pecah karena hal yang sepele. Pengaruh mabuk yang berlebihan hingga menyebabkan kesalapahaman antara kedua belah pihak. Sungguh sangat di sesalkan. Nyawa kita di tukar dengan beberapa gelas alkohol.

Seorang polisi berpangkat bripda yang kebetulan adalah keluarga saya , tidak mampu meredam pertikaian tersebut. Enam butir peluru yang di kantonginya seakan tidak ada fungsinya. Suara teriakan histeris dari anak-anak dan kaum wanita seakan menjadi penyemangat untuk lebih maju kedepan mendapati maut. Satu demi satu korban mulai terkapar, teriakan pun makin riuh mengiang di telinga. Puskesmas yang ada di perbatasan kedua desa yang bertikaipun tidak bisa berbuat banyak , karena tenaga medis yang belum memadai dan tidak seimbang dengan jumlah korban yang terus bertambah.

Cerita tinggal cerita . kenangan pahit di masa itu ternyata hanya sepenggal kejadian yang terus terulang sejak masa lampau khususnya di dataran yang kaya akan padi tersebut. Sebelumnya kita juga pasti sering mendengar pertikaian antara imandi dan tambun, tonom dan ibolian, dan masih banyak lagi desa-desa di dataran tersebut yang mengalami hal yang sama.

Hari ini kembali terjadi kejadian yang sama, antara desa doloduo dan ikhwan. Penyebab dari pertikaian tersebut ternyata tidak ada perbedaannya dengan kejadian-kejadian sebelumnya.
Sungguh ironis buat saya. Apa sebenarnya yang terjadi di daerah dumoga? Di lihat dari kejadian hari kemarin dan hari ini, tidak memiliki keuntungan apa pun baik dari segi moril dan materil. Buah dari peristiwa-peristiwa tersebut hanya menghasilkan permusuhan turun temurun sampai ke anak cucu kita. Mendapati peristiwa kemarin dan hari ini banyak kalangan yang bertanya-tanya dan berargumen " kenapa kejadian yang sama tersebut selalu terulang?" seakan moto daerah sulawesi utara "torang samua basudara tidak diberlakukan di tanah ini."
Pertanyaan dan pernyataan yang wajib di pikirkan". Semua mempertanyakan hal tersebut. Ternyata semua orang merasa risih dan bosan dengan situasi seperti itu.

Apa yang akan terjadi di kemudian hari apabila tidak ada jalan keluarnya? Jawabanya adalah seperti yang terjadi hari ini.

Sayapun tertarik untuk coba menggali dan menelusuri hal-hal apa yang harus kita lakukan untuk mempersatukan daerah ini di esok hari.
Pertama, yang timbul di pikiran saya adalah' apakah dengan menciptakan lapangan kerja di daerah ini bisa membantu mengurangi kekacauan yang ada?
Kedua, apakah dengan meningkatkan kualitas pendidikan bisa juga berfungsi membuat ketenangan di dumoga?
Ketiga " tingkat keamanan seperti apa saja yang harus ada di tempat ini agar bisa menciptakan suasana yang kondusif?

Berangkat dari ke tiga pertanyaan tersebut, sayapun coba menjawabnya sendiri.
Pertama ' saya sadari ' lapangan kerja yang ada di daerah ini sangatlah minim, aktifitas mayoritas yang ada sebagai petani dan penambang , belum mampu menopang cara hidup yang memadai di setiap segi. Peran pemerintah sebagai pengendali dana daerah wajib memberikan dan menciptakan lapangan pekerjaan yang sesuai situasi daerah tersebut. Saya faktor ini bisa menjadi peran penting dalam mengurangi keadaan yang tidak selaras di daerah ini. Walupun hanya sedikit, tapi penting.

Kedua' tingkat pendidikan masyarakat di daerah ini perlu diarahkan ke tingkat yang lebih baik ' agar cara pikir dan cara pandang masyarakat yang ada di daerah ini akan menjadi lebih positif dengan wawasan pendidikan yang lebih baik. Karena data yang saya dapat , saat pertikaian pecah, yang dominan mengambil peran adalah mereka yang berusia 20 tahun kebawah. Yang seharusnya mereka-mereka ini adalah generasi yang akan menjadi penerus dalam membangun daerah.

Ketiga' bicara tentang tingkat keamanan ' saya belum pernah menarik dan mendapat kesimpulan kenapa tingkat keamanan di daerah konflik ini sangat memprihatinkan. Markas-markas pelindung masyarakat dan NKRI sama sekali tidak ada di tempat ini.ironisnya tempat-tempat yang seharusnya berada di dataran dumoga , di dirikan di daerah yang potensi konfliknya sangat kecil ,bahkan sampai saat ini pun saya belum pernah mendengar ada konflik di daerah tersebut.

Mungkin itu adalah hal kecil yang harus kita lakukan untuk meminimalisir konflik yang ada di dumoga bersatu.
Semoga tulisan ini bukan hanya sekedar bacaan belaka yang di nilai seperti dongeng, tapi marilah kita mengajak semua pihak untuk mengambil bagian dalam menciptakan hal yang kondusif di daerah kita.
Mototabian mototanoban mototompiaan.

(Oktavianus Singal)

                                           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar