Blog ini saya buat dengan tujuan membangkitkan semangat teman-teman agar bisa memahami jati diri kita sebagai pemuda Totabuan yang kemungkinan di antara kita masih memiliki mental yang rapuh dalam memahami arti dari kehidupan yang kita jalani setiap hari. kadang kita masih terpaku dengan keadaan hidup yang seadanya tanpa kita sadari potensi yang ada di diri kita. saya mengajak teman-teman untuk dapat menggali pengetahuan tersembunyi itu lewat membaca.
Senin, 28 April 2014
Membaca Dan Menulis di Kegelapan ( bukti kegagalan PLN )
Saya menuliskan blog ini tanpa penerangan
sama sekali, hanya mengandalkan cahaya
monitor lcd hanphone dan berharap
batrenya tidak keburu habis. Tidak sehat bagi
mata, memang, tetapi apalagi yang bisa
dilakukan dalam gulita ini dengan hati yang
kesal dan marah ?
Lampu senter LED yang didayai oleh batre
rechargeable yang digunakan dari dua jam tadi
sebagai penerang sudah padam. Mau
menyalakan lampu teplok sudah enggan karena
semprongnya cepat menjadi hitam kelam dan
apinya berkobar liar akibat (diduga) minyak
tanah yang jadi bahan bakarnya dicampur
dengan solar. Sementara di kiri kanan,
terdengar deru generator milik tetangga dan
asapnya masuk melalui jendela, menyebabkan
rasa mual dan sedikit pusing. Di seberang jalan
toko ritel juga menyalakan genset dan terlihat
terang, tetapi kebanyakan rumah tampak gulita
atau hanya diterangi cahaya buram.
Itulah yang sedang saya alami saat ini dan itu
sudah jadi rutinitas harian. Pemadaman di
daerah kami lazimnya terjadi malam hari sekali
selama minimum 3 jam, tetapi kadang-kadang
juga mendapat bonus pemadaman pada pagi
hari dengan durasi yang hampir sama. Anak-
anak terganggu jam belajarnya, dan malam
menjadi saat yang menyebalkan ketika udara
panas menyengat, nyamuk mengerubung dan
tak ada kipas yang bisa dinyalakan.
"Masih mendingan kamu", kata temanku,
"padam hanya sekali sehari. Kami minimum
dua kali sehari, dan terkadang tiga kali."
Itu jadi ungkapan yang teramat sering
terdengar belakangan ini. "Mendingan" : kata
hiburan bagi sesama pesakitan di penjara
energi yang dibuat oleh PLN. Memang benar,
mendapat giliran pemadaman listrik sekali
sehari menjadi suatu keistimewaan di tengah-
tengah para pelanggan lain yang mengalami
penderitaan lebih parah. Tapi, itu tidak
mengurangi nestapa yang mendera akibat
tingkat pelayanan penyedia listrik yang luar
biasa buruk ini. Kurangnya pasokan dari
pembangkit membuat PLN harus melakukan
load shedding (pelepasan sebagian beban); itu
artinya, sebagian pelanggan tak mendapat
pasokan daya. Pelepasan beban listrik dapat
diterjemahkan sebagai penumpukan beban
hidup tanpa aliran listrik secara bergiliran bagi
para pelanggan.
Apakah yang bisa dilakukan terhadap PLN
dengan kelakukannya ini ? Berbagai elemen
masyarakat sudah memprotes, bahkan
mengajukan gugatan ke pengadilan dengan
dukungan anggota DPRD dan DPD. Tapi, PLN
bergeming. Konon mereka sudah menyewa
genset, sudah mempercepat pembangunan
pembangkit baru, sudah mengatur jadwal
pemeliharaan pembangkit dan jaringan,
dan...entah apa lagi. Yang jelas, pemadaman
terus berlanjut. Apakah guna sejumlah "konon"
dan janji manis apabila situasi tak berbeda
dengan atau tanpa "konon" dan janji manis ?
Bukankah itu hanya menambah kemuakan
terhadap mereka yang tanpa malu bertahan di
jabatan masing-masing meskipun tanpa
prestasi ?
Sungguh menyedihkan menjadi konsumen yang
harus tunduk pada apapun yang dilakukan oleh
produsen. Tidak ada kontrak yang melindungi
konsumen untuk mendapatkan kualitas dan
keandalan layanan yang jelas ukurannya
(seperti Loss of Load Probability). Semuanya
sesuka produsen, itu sudah anugerah yang
disediakan oleh sistem monopoli. Konsumen
tak bisa pindah ke penyedia layanan listrik lain.
Oh, tentu saja bisa sediakan listrik sendiri : beli
genset, beli solar atau bensin, dan tada.... tak
perlu tergantung pada PLN lagi. Begitukah?
Tentu saja bisa begitu, jika mau menerima
jawaban tolol. Hanya di tempat yang terpencil
orang-orang menggunakan generator kecil
berbahan bakar minyak yang sangat tidak
efisien untuk menyediakan energi secara rutin.
Kegagalan PLN menyediakan listrik dengan
tingkat ketersediaan dan keandalan yang tinggi
adalah kegagalan menyediakan salah satu
infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendorong
pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan
penduduk. Persoalan kegagalan PLN ini
bukanlah soal sederhana, tetapi kegagalan
negara untuk memenuhi kebutuhan mendasar
bagi masyarakat.
Listrik adalah kebutuhan esensial bagi
masyarakat modern. Meminta masyarakat
bertoleransi berbulan-bulan bahkan bertahun-
tahun dengan kondisi darurat listrik adalah
perilaku memalukan dan kebablasan dari para
pejabat yang berwenang. Perencanaan
penyediaan pembangkit serta jaringan
transmisi dan distribusinya bukanlah ilmu yang
sesulit meluncurkan roket ke luar angkasa.
Peramalan permintaan energi listrik jangka
panjang, menengah dan pendek adalah ilmu
yang sudah berumur puluhan tahun dan terkait
erat dengan aktivitas dan pertumbuhan
ekonomi, perkembangan demografi dan
penggunaan ruang. Pendugaan pola beban juga
tak serumit meramalkan harga saham,
sehingga menduga total kebutuhan energi dan
daya puncak yang harus disediakan juga
bukanlah soal yang luar biasa sulit.
Lalu mengapa krisis listrik terus terjadi?
Kefasihan mencari alasan yang menjadi bakat
alam para pemimpin negeri ini menyediakan
berbagai jawaban instan. Mulai dari kesalahan
pejabat masa lalu, harga jual listrik yang lebih
murah dari harga produksinya oleh PLN atau
pembeliannya dari IPP, subsidi listrik yang tak
memadai, tidak koperatifnya pemerintah
daerah, tidak koperatifnya masyarakat di
sekitar wilayah yang akan dijadikan lokasi
pembangunan pusat pembangkit, melunjaknya
para pemilik lahan yang akan digunakan
sebagai jalur transmisi atau distribusi,
dan...entah apa lagi. Jarang-jarang disebut
adalah korupsi yang terjadi di berbagai level
pejabat PLN, baik di pusat maupun di daerah.
Lebih jarang lagi disebut adalah
ketidakkompetenan para pejabat PLN.
Hidup di negeri di mana korupsi, kolusi dan
nepotisme masih merajalela dan para pejabat
tak punya rasa malu dan bersalah jika gagal
menjalankan tugas dan tanggung-jawabnya,
memang seperti hidup dalam zaman
kegelapan.
Itulah yang dirasakan oleh sebagian besar
penduduk di daerah dimana saya tinggal.
Padamnya listrik ini bagaikan metafora yang
menggambarkan gelapnya hati para pemimpin
negeri dan suramnya masa depan rakyat.
Sebagian rumah dan gedung yang sanggup
membeli generator dan membayar BBM-nya
masih bisa menikmati energi listrik dan
beraktivitas normal, sedangkan yang lain harus
berpuas diri dengan cahaya lilin, teplok atau
lampu senter; itu adalah metafor bahwa
cahaya dan harapan selalu tersedia bagi
segelintir mereka yang berpunya, sedangkan
kegelapan dan ketakberdayaan itu adalah
takdir bagi sang miskin.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar