Andai kau jadi bunga' aku pasti jadi kumbangnya' . sepenggal lirik lagu dari BIP yang sangat tenar di zaman saat saya masih duduk di bangku sma seakan menggerakkan saya untuk melangkah dan mencari sebuah mata pena dan beberapa lembar kertas.
Teringat sangat jelas di otak kecil saya, masa di mana saya merasakan hal yang luar biasa saat saya pertama kali menggunakan hak saya sebagai warga indonesia, untuk ikut dalam pesta demokrasi pada tahun 2004 silam. Layaknya seorang anak berumur 5 tahun yang akan masuk sekolah pada hari pertama. Sayapun tak beda seperti itu. Mendatangi Tps dengan sangat semangat. Kala itu bertepatan dengan pemilihan presiden.
Sebenarnya apa sih keuntungan saya? Itulah yang kembali tertancap di pikiran saya. Yah...jika anda menggunakan hak suara, dan tidak golput, berarti anda adalah warga negara yang baik. Hahahaha....sangat lucu itulah stagmen sosialisasi yang sering di publikasikan KPU kala menjelang pemilu. Tapi saya pikir itu bukanlah kesalahan ataupun kebodohan.
Lepas dari pengalaman diatas, kini saya ingin menghabiskan tinta pena ini untuk menulis beberapa kejadian aneh dan memalukan yang terjadi saat ini, khususnya di tanah kelahiran kita ini Kota Kotamobagu.
Belum lepas dari ingatan kita, pemilihan pertama di kota ini, para calon walikota yang yang namanya sangat tenar, yang mempunyai posisi , jabatan dan kekuasaan yah wah....salah satunya Drs.H Djelantik Mokodompit, sekarang ada(ME) di belakangnya. beliau adalah mantan anggota DPR RI selama 2 Periode. ada juga nama Syahrial Damopolii yang saat itu menjabat sebagai Ketua DPRD Sulut,,,
sangat saya sesalkan, pilwako pada saat itu terkesan bukan merupakan ajang pesta demokrasi seperti yang yang di anggap.Masyarakat terkesan lebih menjadi budak politik tanpa mereka sadar. yah betul...permainan elit politikpun di mulai,,,istilah yang sering kita dengar dan sebut TS (Tim Sukses) bertebaran di setiap kelurahan di kotamobagu,,,pekerjaan dari TS ini sangat mudah,,,hanya dengan menjual calon yang di jadikannya majikan di lingkungan tempat dia bernaung. itulah mereka para pemburu kertas bergambar Soekarno-Hatta.
Di awal tulisan ini saya sempat menulis sepenggal lagu yang di latunkan grup band lawas BIP,,,yah.. mungkin itulah gambaran para calon walikota/legislatif di daerah ini pada saat akan mencalonkan diri. terlihat seperti sepasang kekasih yang baru berpacaran, saling mengisi satu sama lain , padahal di balik itu tak ada bedanya dengan film kartun Tom & Jerry,,pada saat itu memang tidak akan nampak tujuan apa yang sebenarnya mereka incar.
setahun setelah terpilih barulah nampak apa yang di namakan persaingan politik tingkat dewa ini,,,di awali dari kasus CPNS 2009,,,sangat meninggalkan luka bagi beberapa CPNS yang terpanggil tapi tidak terpilih. kekecewaan yang sangat dalam,,buah dari kekejaman politik.
Perceraianpun kembali terjadi tahun kemarin antara DB 1 K dan DB 5 K (saat ini jadi DB 2 K),,mantan anggota DPR RI sekaligus Walikota pada saat itu mimilih melepaskan diri dari pasangan sebelumnya,,begitu juga sebaliknya sang srikandi Ir. Hj. Tatong Bara meminang pasangan pilihannya.
pertarungan sangat seru terjadi di antara 2 kubu ini,,,antara sang tangan ringan pemberi SK mutasi dan sang srikandi yang rendah hati. pertarungan ini berjalan sangat panas saat masa kampanye. saling hujat antara massa pendukungpun menjadi hal yang Lazim di dengar,
akhir pertarungan ini pun di menangkan pasangan dengan jargon "TB-JADI'.
kita kembali di judul tulisan ini. keherananpun singgah di pikiran saya, apa yang dikejar manusia itu dalam pertarunggan politik ini? pentingkah sebuh jabatan jika hanya ingin membalas dendam dan menjaga gengsi sosial? seorang yang pada awalnya mempunyai jabatan yang sangat mantap tiba-tiba saja turun gunung demi keinginan mendapatkan kursi bupati. dua kali pertarungan pun harus tumbang dengan lawan yang sama.
setelah pemekaran beliau kembali bertarung untuk DB 1 K, akhirnya cita-citanya pun berhasil. Lima tahun pun lewat dengan kesan tidak ada keharmonisan politik antara kosong satu dan kosong dua.....
Blog ini saya buat dengan tujuan membangkitkan semangat teman-teman agar bisa memahami jati diri kita sebagai pemuda Totabuan yang kemungkinan di antara kita masih memiliki mental yang rapuh dalam memahami arti dari kehidupan yang kita jalani setiap hari. kadang kita masih terpaku dengan keadaan hidup yang seadanya tanpa kita sadari potensi yang ada di diri kita. saya mengajak teman-teman untuk dapat menggali pengetahuan tersembunyi itu lewat membaca.
Kamis, 08 Mei 2014
Rabu, 07 Mei 2014
MENGENAL LEBIH DEKAT TOKOH AGAMA ADVENT (ELLEN G WHITE)
Ellen Gould White (nama lahir: Ellen Gould Harmon) (lahir tanggal November 26, 1827 - meninggal tanggal 16 Juli1915) adalah seorang penulis dan seorang tokoh kristen di Amerika. Dia, bersama dengan Joseph Bates dan James S. White membentuk organisasi keagamaan yang sekarang dikenal sebagai Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.
Ellen White diyakini oleh para pengikutnya memperoleh ilham atau wahyu dari Tuhan. James White dan pelopor Gereja Advent lainnya, menafsirkan ilham itu sebagai manifestasi karunia nubuat sebagaimana dimaksud dalam Wahyu 12:17; 19:10 yang menyatakan bahwa kesaksian Yesus Kristus sebagai "roh nubuat". Karyanya serial Conflict of the Agesmemaparkan campur tangan Allah dalam sejarah dunia dari penciptaan hingga akhir zaman. Konflik kosmis antara Allah dan Setan yang ditampilkan dalam serial buku itu, dikenal sebagai "Great Controversy theme", yang menjadi landasan ajaran Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.[1]
Ellen White dianggap sebagai sosok yang kontroversial. Pengakuannya pemperoleh ilham dari Tuhan dan penggunaan sumber-sumber lain dalam tulisan-tulisannya menuai kontroversi. Dia menerima ilham pertamanya segera setelahKekecewaan Besar Millerite.[2] [3] Sejarawan Randall Balmer menggambarkan White sebagai "salah satu tokoh yang sangat penting dalam sejarah keagamaan di Amerika."[4] Walter Martin menggambarkan dirinya sebagai "salah satu tokoh yang paling menarik dan kontroversial yang pernah ada dalam cakrawala sejarah keagamaan ."[5] Arthur L. White, cucu dan penulis biografinya, menyatakan bahwa Ellen G. White adalah penulis non-fiksi wanita yang paling banyak diterjemahkan karyanya dalam sejarah sastra, serta penulis non-fiksi Amerika yang paling diterjemahkan karyanya. [6] Tulisan-tulisannya meliputi penciptaan, pertanian, teologi, penginjilan, gaya hidup Kristen, pendidikan, dankesehatan. Dia menganjurkan vegetarianisme. Dia mendorong pendirian sekolah, percetakan, sanatorium, dan rumah sakit. Selama hidupnya ia menulis lebih dari 5.000 naskah berkala dan 40 buku. Saat ini, hasil karyanya mencapai lebih dari 100 buku, yang sebagian adalah hasil kompilasi dari 50.000 halaman naskah tulisannya yang diterbitkan setelah kematiannya. Beberapa bukunya yang paling terkenal adalah The Desire of Ages, The Great Controversy, danSteps to Christ. Buku Steps to Christ, telah diterbitkan dalam 140 bahasa.
Asal Usul Leluhur
Pada tahun 1999, Charles E. Dudley, Sr,[7] menerbitkan sebuah buku yang berjudul, The Genealogy of Ellen Gould Harmon White: The Prophetess of the Seventh-day Adventist Church, and the Story of the Growth and Development of the Seventh-day Adventist Denomination As It Relates to African-Americans. Dalam bukunya, Charles Dudley menyatakan bahwa Ellen White adalah keturunan Afrika-Amerika.[8]
Pada bulan Maret 2000, Ellen G. White Estate menugaskan Roger D. Joslyn, seorang ahli genealogi profesional,[9] untuk melakukan penelitian pada silsilah Ellen G. White. Joslyn menyimpulkan bahwa dia adalah keturunan Anglo-Saxon.[10] Joslyn menemukan bahwa ibu Ellen, Eunice (Gould) Harmon adalah putri dari Joseph Gould, seorang tentara perang kemerdekaan Amerika. Ia adalah keturunan Jarvis Gould, seorang Inggris yang imigrasi ke Amerika tahun 1635.[10]
Masa Anak-anak
Pada usia sembilan tahun, suatu sore ketika pulang dari sekolah, dia terluka parah di wajah oleh lemparan batu yang dilemparkan oleh teman sekelasnya. Selama tiga minggu ia tidak sadar, dan dalam tahun-tahun berikutnya ia sangat menderita sebagai akibat dari cedera serius pada hidungnya.[11] Pendidikan formal Ellen berhenti. Mengenang peristiwa itu, dia kemudian hari dia menulis:Ellen dan adiknya kembarnya Elizabeth, lahir tanggal 26 November 1827, dari pasangan Robert dan Eunice Harmon. Robert adalah seorang petani yang juga pembuat topi. Dengan delapan anak dalam keluarga, rumah mereka selalu ramai. Mereka tinggal di sebuah pertanian kecil dekat desa Gorham, Maine. Beberapa tahun setelah kelahiran si kembar, Robert Harmon menjual lahan pertaniannya dan dengan keluarganya pindah ke kota Portland, Maine.
- . "Kemalangan ini, yang untuk sementara waktu tampaknya begitu pahit dan begitu sulit untuk dipikul, terbukti menjadi berkah tersembunyi. Pukulan yang kejam yang yang menghilangkan kegembiraan adalah sarana untuk memalingkan mata saya ke surga. Saya mungkin tidak pernah mengenal Yesus bila tidak mengalami masa-masa suram di awal kehidupan saya, itu telah menuntun saya untuk mencari penghiburan dalam diriNya. " [12]
Pada tanggal 26 Juni 1842, atas permintaannya dia dibaptis dengan cara diselamkan di Casco Bay, Portland. Pada hari yang sama ia diterima sebagai anggota Gereja Metodis.
Masa Remaja
Pada tahun 1840 dan 1842 Ellen dan anggota keluarga lain menghadiri pertemuan Millerite di Portland. Mereka menerima pandangan yang disajikan oleh William Miller dan rekan-rekannya. Keterlibatan keluarganya pada Gerakan Miller menyebabkan mereka dikeluarkan dari Gereja Methodis.
Kedatangan Yesus seperti yang diajarkan Miller tidak berbukti menyebabkan Kekecewaan Besar dikalangan pengikut Miller. Ketika banyak yang ragu-ragu dan yang meninggalkan pergerakan Miller , Ellen suatu pagi di akhir bulan Desember mengklaim bahwa Ia mendapatkan penglihatan dari Tuhan. Ellen menyatakan bahwa Tuhan memberikan penglihatan perjalanan orang-orang Advent ke kota Allah kepadanya. Sebagai gadis 17 tahun, dia enggan dan takut untuk menyebarkan penglihatan yang dia terima itu tetapi dorangan keluarga dan teman-temannya membuat dia berani untuk memberitakan penglihatan itu. Sebagai tanggapan terhadap penglihatan-penglihatan berikutnya, Ellen bersama teman dan kerabat pergi dari satu tempat ke tempat lainnya mengunjungi umat Advent yang terpecah untuk menyampaikan penglihatan ini. [11]
Perkawinan dan Keluarga
Dalam perjalanan ke Orrington, Maine, Ellen bertemu dengan seorang pendeta Gerakan Millerite, James Springer White, yang ketika itu berusia 23 tahun. Oleh karena kebersamaan dalam pekerjaan mereka dan untuk menghindari gosip,[13]maka mereka memutuskan untuk menikah pada tahun 1846 di penghulu nikah sebab mereka tidak memiliki keanggotaan gereja.[13] James kemudian menulis:
- "Kami menikah 30 Agustus 1846, dan sejak saat itu hingga saat ini dia telah menjadi mahkota kegembiraanku .... Atas pemeliharaan Allah yang baik, kami berdua telah menikmati pengalaman mendalam dalam gerakan Advent .. .. Pengalaman kami ini diperlukan karena kami harus bekerja sama dan bersatu untuk pekerjaan yang luas dari Samudera Atlantik ke Pasifik ...." [14]
Kehidupan pada masa awal pernikahan mereka penuh dengan kemiskinan dan kadang-kadang tertekan. Dalam hal keuangan para pekerja pergerakan Advent tidak memiliki dukungan keuangan, sehingga James White membagi waktunya antara khotbah dan mencari nafkah sebagai penebang kayu di hutan, buruh rel kereta api, atau mengumpulkan rumput. James dan Ellen memiliki empat anak: Henry Nichols, James Edson (dikenal sebagai Edson), William Clarence (dikenal sebagai Willie atau WC), dan John Herbert. Hanya Edson dan William hidup sampai dewasa. John Herbert meninggal karena erisipelas pada usia tiga bulan, dan Henry meninggal karena pneumonia pada usia 17 pada tahun 1863.
Tinggal di Eropa
Pada awal tahun 1880-an General Conference meminta Ellen White dan putranya, William C White, untuk pindah ke misi Eropa. Ketika dia bersiap untuk perpindahan itu kondisi fisiknya melemah sehingga membuat perjalanan itu mustahil dilakukan, tetapi Ellen White berkeputusan untuk taat melaksanakan tugas. Setelah proses pemulihan yang singkat dia memulai perjalanan ke Eropa, dimana dia tinggal dari musim gugur tahun 1885 hingga musim panas 1887.[11]
Ellen White tinggal di Basel, Swiss, yang menjadi kantor pusat misi Eropa. Dari sini Ellen White melakukan perjalanan ke Inggris,Jerman, Perancis, Italia, Denmark, Norwegia, dan Swedia. Salah satu pengalaman yang menarik baginya adalah dua kali kunjungan ke lembah Waldens di Italia, dimana dia mengunjungi tempat yang dia pernah melihat dalam penglihatan sehubungan dengan peristiwa pada Abad Kegelapan. Di Basel, Swiss, dan Christiana (sekarang Oslo), Norwegia, Ellen White mendirikan percetakan seperti yang diperintahkan Tuhan padanya pada penglihatan tanggal 3 Januari 1875. Nasihat yang diberikan Ellen White untuk pekerjaan misi Eropa banyak mempengaruhi kebijakan di ladang misi ini.
Dalam kunjungan di Eropa ini, Ellen White menulis lebih lengkap sejarah kekristenan yang melibatkan tempat-tempat di Eropa. Hasilnya adalah buku yang dikenal saat ini sebagai The Great Controversy, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1888.
Setelah kembali ke Amerika Serikat, Ellen White tinggal di Healdsburg, California. Dalam tahun-tahun berikutnya dia melakukan perjalanan, berkhotbah, dan berusaha untuk menyatukan gereja tentang doktrin pembenaran oleh iman. Sementara itu dia menyelesaikan karnyanya yang berjudul Patriarchs and Prophets, yang diterbitkan pada tahun 1890.
Tinggal di Australia
Pada rapat General Conference tahun 1891, Ellen White diperintahkan pindah Australia untuk memberikan nasihat dan membantu dalam pekerjaan gereja di wilayah baru ini. Menanggapi perintah ini, dia berangkat ke Australia dan tiba pada tanggal 8 Desember, 1891, didampingi oleh anaknya, William C. White, dan 4 orang pembantunya.[15]
Tidak lama setelah kedatangannya, Ellen White melihat kebutuhan untuk sebuah institusi pendidikan di Australia. Kemudian sebuah sekolah Alkitab dibuka di kotaMelbourne, Australia, pada tahun 1892.[16] [17] Setelah sekolah itu beroperasi selama dua tahun, permohonan tertulis dan lisan datang dari Ellen White yang menyatakan bahwa rencana Allah untuk mendirikan sekolah yang akan berada di lingkungan pedesaan.[18] [19]
Ellen White mengaku mendapatkan penglihatan dari Tuhan untuk membeli sebidang tanah yang gersang di Cooranbong, New South Wales.[17] Permintaan ini menuai kontroversi sebab mencari lahan untuk perguruan tinggi tampaknya menjadi tugas yang sukar untuk gereja yang kecil di Australia pada saat itu sebab mereka tidak memiliki keuangan untuk mendukung proyek semacam itu.[17] Selain itu, seorang ahli pertanian dari pemerintah yang ditugaskan untuk memeriksa tanah melaporkan bahwa lahan itu adalah tanah dengan kualitas yang sangat tandus, tetapi lahan itu dibeli pada musim semi 1895, dan Avondale School for Christian Workers dibuka di sana pada tahun 1897. Pada tahun 1911 namanya diubah menjadi Australasian Missionary College. Perguruan tinggi ini, yang sekarang dikenal dengan nama Avondale College, memiliki pengaruh besar pada sistem pendidikan Gereja Advent dikemudian hari.[17] Begitu pekerjaan pendidikan dimulai di Avondale, Ellen White membuka beberapa program misionaris medis dan mendirikan sebuah sanatorium.[11]
Selain bekerja untuk kepentingan di pekerjaan lokal, Nyonya White menulis artikel mingguan di Review and Herald, Signs of the Times, dan Youth's Instructor. Pada tahun 1898 ia menyelesaikan karyanya The Desire of Ages. Dua tahun kemudian dia menyelesaikan bukunya yang berjudul Thoughts from the Mount of Blessing, Christ’s Object Lessons, dan Testimonies for the Church jilid 6, yang diterbitkan pada tahun 1900.[15]
Kembali ke Amerika Serikat
Mengaku mendapat penglihatan dari Tuhan, suatu hari pada tahun 1900 Ellen White memberitahukan bahwa instruksi ilahi datang kepadanya ia harus kembali ke Amerika. Di Amerika Serikat dia tinggal di desa Elmshaven, beberapa mil dari kota kecil St Helena, California utara. Ellen White menghabiskan 15 tahun akhir hidupnya di tempat ini.[11]
Akhir tahun 1905 dia menyelesaikan The Ministry of Healing, sebuah buku yang berhubungan dengan penyembuhan tubuh, pikiran, dan jiwa. Buku Educationditerbitkan pada tahun 1903, dan dua jilid buku Testimonies for the Church jilid 7 dan 8, diterbitkan pada tahun 1902 dan 1904.
Selama tinggal di Elmshaven, Nyonya White mendorong gereja di California selatan untuk mendirikan sebuah sanatorium di Loma Linda, yang kemudian dewasa ini dikenal sebagai Loma Linda University Medical Center. Beberapa tahun berikutnya Ellen White mendorong untuk mendirikan Paradise Valley Sanitarium dekat San Diego.
Akhir Hidup
Karena usia dan kondisi fisiknya yang semakin lemah, Ellen White mengurangi waktunya untuk melakukan perjalanan. Dia intensif menghasilkan sejumlah buku yang menyajikan instruksi penting untuk Gereja Advent. Testimonies for the Church, jilid 9, diterbitkan pada tahun 1909. Pada tahun 1911 The Acts of the Apostlesditerbitkan. Pada tahun 1913 Counsels to Parents and Teachers dicetak, dan pada tahun 1914 naskah Gospel Workers dia selesaikan. Bulan-bulan aktif penutupan kehidupan Ellen White dikhususkan untuk buku Prophets and Kings.[11] Pada pagi hari 13 Februari 1915, Ellen White tersandung dan jatuh. Dari pemeriksaan sinar-X diketahui adanya patah tulang di pinggul kiri, dan selama lima bulan Ellen White tinggal di tempat tidur atau kursi rodanya. Kehidupan Ellen White berakhir 16 Juli 1915, pada usia 87 tahun. Dia dimakamkan di samping suaminya di Oak Hill Cemetery, Battle Creek, Michigan.
Pandangan Gereja Advent tentang Ellen G. White
Hubungan Alkitab dengan Ellen G. White
Gereja Advent percaya bahwa Alkitab adalah firman diwahyukan Tuhan dan diilhami oleh Roh Kudus. Tulisan-tulisan Ellen White bukan tambahan kanon Kitab Suci. Tulisan-tulisan Ellen White tidak dapat digunakan untuk menggantikan studi Alkitab. Gereja Advent tidak percaya bahwa Kitab Suci hanya dapat dipahami melalui tulisan-tulisan Ellen White.[20]
Hubungan Doktrin Gereja dengan Ellen G. White
Gereja Advent percaya bahwa Alkitab adalah dasar dari iman dan otoritas akhir dimana semua doktrin diuji. Tulisan-tulisan Ellen White tidak berfungsi sebagai landasan dan otoritas akhir dari iman Kristen seperti halnya Alkitab. Tulisan-tulisan Ellen White tidak dapat digunakan sebagai dasar doktrin. Gereja Advent percaya bahwa Alkitab mengajarkan karunia nubuat akan terwujud dalam gereja Kristen setelah zaman Perjanjian Baru. Pelayanan dan tulisan-tulisan Ellen White adalah manifestasi karunia nubuat.[20]
Hubungan Keanggotaan Gareja dengan Tulisan-tulisan Ellen G. White
Gereja Advent percaya bahwa Ellen White diilhami oleh Roh Kudus dan tulisan-tulisannya adalah hasil dari inspirasi yang berlaku dan berwibawa terutama untuk Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Penerimaan dari karunia kenabian Ellen White adalah penting untuk memelihara dan kesatuan dari Gereja Advent Hari Ketujuh.[20]
Hubungan Tulisan-tulisan Ellen G. White dengan buku-buku rujukan yang digunakan
Gereja Advent percaya bahwa Ellen White menggunakan sumber-sumber lain dalam tulisannya yang sesuai dengan Alkitab, tetapi penggunaan sumber-sumber itu tidak meniadakan inspirasi dari tulisan-tulisannya.[20]
Senin, 28 April 2014
Membaca Dan Menulis di Kegelapan ( bukti kegagalan PLN )
Saya menuliskan blog ini tanpa penerangan
sama sekali, hanya mengandalkan cahaya
monitor lcd hanphone dan berharap
batrenya tidak keburu habis. Tidak sehat bagi
mata, memang, tetapi apalagi yang bisa
dilakukan dalam gulita ini dengan hati yang
kesal dan marah ?
Lampu senter LED yang didayai oleh batre
rechargeable yang digunakan dari dua jam tadi
sebagai penerang sudah padam. Mau
menyalakan lampu teplok sudah enggan karena
semprongnya cepat menjadi hitam kelam dan
apinya berkobar liar akibat (diduga) minyak
tanah yang jadi bahan bakarnya dicampur
dengan solar. Sementara di kiri kanan,
terdengar deru generator milik tetangga dan
asapnya masuk melalui jendela, menyebabkan
rasa mual dan sedikit pusing. Di seberang jalan
toko ritel juga menyalakan genset dan terlihat
terang, tetapi kebanyakan rumah tampak gulita
atau hanya diterangi cahaya buram.
Itulah yang sedang saya alami saat ini dan itu
sudah jadi rutinitas harian. Pemadaman di
daerah kami lazimnya terjadi malam hari sekali
selama minimum 3 jam, tetapi kadang-kadang
juga mendapat bonus pemadaman pada pagi
hari dengan durasi yang hampir sama. Anak-
anak terganggu jam belajarnya, dan malam
menjadi saat yang menyebalkan ketika udara
panas menyengat, nyamuk mengerubung dan
tak ada kipas yang bisa dinyalakan.
"Masih mendingan kamu", kata temanku,
"padam hanya sekali sehari. Kami minimum
dua kali sehari, dan terkadang tiga kali."
Itu jadi ungkapan yang teramat sering
terdengar belakangan ini. "Mendingan" : kata
hiburan bagi sesama pesakitan di penjara
energi yang dibuat oleh PLN. Memang benar,
mendapat giliran pemadaman listrik sekali
sehari menjadi suatu keistimewaan di tengah-
tengah para pelanggan lain yang mengalami
penderitaan lebih parah. Tapi, itu tidak
mengurangi nestapa yang mendera akibat
tingkat pelayanan penyedia listrik yang luar
biasa buruk ini. Kurangnya pasokan dari
pembangkit membuat PLN harus melakukan
load shedding (pelepasan sebagian beban); itu
artinya, sebagian pelanggan tak mendapat
pasokan daya. Pelepasan beban listrik dapat
diterjemahkan sebagai penumpukan beban
hidup tanpa aliran listrik secara bergiliran bagi
para pelanggan.
Apakah yang bisa dilakukan terhadap PLN
dengan kelakukannya ini ? Berbagai elemen
masyarakat sudah memprotes, bahkan
mengajukan gugatan ke pengadilan dengan
dukungan anggota DPRD dan DPD. Tapi, PLN
bergeming. Konon mereka sudah menyewa
genset, sudah mempercepat pembangunan
pembangkit baru, sudah mengatur jadwal
pemeliharaan pembangkit dan jaringan,
dan...entah apa lagi. Yang jelas, pemadaman
terus berlanjut. Apakah guna sejumlah "konon"
dan janji manis apabila situasi tak berbeda
dengan atau tanpa "konon" dan janji manis ?
Bukankah itu hanya menambah kemuakan
terhadap mereka yang tanpa malu bertahan di
jabatan masing-masing meskipun tanpa
prestasi ?
Sungguh menyedihkan menjadi konsumen yang
harus tunduk pada apapun yang dilakukan oleh
produsen. Tidak ada kontrak yang melindungi
konsumen untuk mendapatkan kualitas dan
keandalan layanan yang jelas ukurannya
(seperti Loss of Load Probability). Semuanya
sesuka produsen, itu sudah anugerah yang
disediakan oleh sistem monopoli. Konsumen
tak bisa pindah ke penyedia layanan listrik lain.
Oh, tentu saja bisa sediakan listrik sendiri : beli
genset, beli solar atau bensin, dan tada.... tak
perlu tergantung pada PLN lagi. Begitukah?
Tentu saja bisa begitu, jika mau menerima
jawaban tolol. Hanya di tempat yang terpencil
orang-orang menggunakan generator kecil
berbahan bakar minyak yang sangat tidak
efisien untuk menyediakan energi secara rutin.
Kegagalan PLN menyediakan listrik dengan
tingkat ketersediaan dan keandalan yang tinggi
adalah kegagalan menyediakan salah satu
infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendorong
pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan
penduduk. Persoalan kegagalan PLN ini
bukanlah soal sederhana, tetapi kegagalan
negara untuk memenuhi kebutuhan mendasar
bagi masyarakat.
Listrik adalah kebutuhan esensial bagi
masyarakat modern. Meminta masyarakat
bertoleransi berbulan-bulan bahkan bertahun-
tahun dengan kondisi darurat listrik adalah
perilaku memalukan dan kebablasan dari para
pejabat yang berwenang. Perencanaan
penyediaan pembangkit serta jaringan
transmisi dan distribusinya bukanlah ilmu yang
sesulit meluncurkan roket ke luar angkasa.
Peramalan permintaan energi listrik jangka
panjang, menengah dan pendek adalah ilmu
yang sudah berumur puluhan tahun dan terkait
erat dengan aktivitas dan pertumbuhan
ekonomi, perkembangan demografi dan
penggunaan ruang. Pendugaan pola beban juga
tak serumit meramalkan harga saham,
sehingga menduga total kebutuhan energi dan
daya puncak yang harus disediakan juga
bukanlah soal yang luar biasa sulit.
Lalu mengapa krisis listrik terus terjadi?
Kefasihan mencari alasan yang menjadi bakat
alam para pemimpin negeri ini menyediakan
berbagai jawaban instan. Mulai dari kesalahan
pejabat masa lalu, harga jual listrik yang lebih
murah dari harga produksinya oleh PLN atau
pembeliannya dari IPP, subsidi listrik yang tak
memadai, tidak koperatifnya pemerintah
daerah, tidak koperatifnya masyarakat di
sekitar wilayah yang akan dijadikan lokasi
pembangunan pusat pembangkit, melunjaknya
para pemilik lahan yang akan digunakan
sebagai jalur transmisi atau distribusi,
dan...entah apa lagi. Jarang-jarang disebut
adalah korupsi yang terjadi di berbagai level
pejabat PLN, baik di pusat maupun di daerah.
Lebih jarang lagi disebut adalah
ketidakkompetenan para pejabat PLN.
Hidup di negeri di mana korupsi, kolusi dan
nepotisme masih merajalela dan para pejabat
tak punya rasa malu dan bersalah jika gagal
menjalankan tugas dan tanggung-jawabnya,
memang seperti hidup dalam zaman
kegelapan.
Itulah yang dirasakan oleh sebagian besar
penduduk di daerah dimana saya tinggal.
Padamnya listrik ini bagaikan metafora yang
menggambarkan gelapnya hati para pemimpin
negeri dan suramnya masa depan rakyat.
Sebagian rumah dan gedung yang sanggup
membeli generator dan membayar BBM-nya
masih bisa menikmati energi listrik dan
beraktivitas normal, sedangkan yang lain harus
berpuas diri dengan cahaya lilin, teplok atau
lampu senter; itu adalah metafor bahwa
cahaya dan harapan selalu tersedia bagi
segelintir mereka yang berpunya, sedangkan
kegelapan dan ketakberdayaan itu adalah
takdir bagi sang miskin.
Sabtu, 26 April 2014
Kemarin, Hari Ini Dan Hari Esok
Bunyi nyaring dari ketukan tiang penyangga untaian kabel listrik seakan menjadi hal yang lazim di dataran dumoga. Yah....benda itu seakan menjadi genderang yang di tabu saat perang akan di mulai.
Terngiang kembali di ingatan saya pada awal tahun 1995 , hari dimana seharusnya masyarakat bersuka karena datangnya tahun yang baru, . saya sangat kaget , karena pada saat saya masih berusia 10 tahun saya sudah menyaksikan pertikaian secara langsung terjadi didepan mata saya. Pecah sudah kerusuhan antara dua desa bertetangga antara desa pusian dan desa toruakat. Yang di dalamnya masih terdapat kekeluargaan yang sangat kental.
Setelah di telusuri, kejadian ini pecah karena hal yang sepele. Pengaruh mabuk yang berlebihan hingga menyebabkan kesalapahaman antara kedua belah pihak. Sungguh sangat di sesalkan. Nyawa kita di tukar dengan beberapa gelas alkohol.
Seorang polisi berpangkat bripda yang kebetulan adalah keluarga saya , tidak mampu meredam pertikaian tersebut. Enam butir peluru yang di kantonginya seakan tidak ada fungsinya. Suara teriakan histeris dari anak-anak dan kaum wanita seakan menjadi penyemangat untuk lebih maju kedepan mendapati maut. Satu demi satu korban mulai terkapar, teriakan pun makin riuh mengiang di telinga. Puskesmas yang ada di perbatasan kedua desa yang bertikaipun tidak bisa berbuat banyak , karena tenaga medis yang belum memadai dan tidak seimbang dengan jumlah korban yang terus bertambah.
Cerita tinggal cerita . kenangan pahit di masa itu ternyata hanya sepenggal kejadian yang terus terulang sejak masa lampau khususnya di dataran yang kaya akan padi tersebut. Sebelumnya kita juga pasti sering mendengar pertikaian antara imandi dan tambun, tonom dan ibolian, dan masih banyak lagi desa-desa di dataran tersebut yang mengalami hal yang sama.
Hari ini kembali terjadi kejadian yang sama, antara desa doloduo dan ikhwan. Penyebab dari pertikaian tersebut ternyata tidak ada perbedaannya dengan kejadian-kejadian sebelumnya.
Sungguh ironis buat saya. Apa sebenarnya yang terjadi di daerah dumoga? Di lihat dari kejadian hari kemarin dan hari ini, tidak memiliki keuntungan apa pun baik dari segi moril dan materil. Buah dari peristiwa-peristiwa tersebut hanya menghasilkan permusuhan turun temurun sampai ke anak cucu kita. Mendapati peristiwa kemarin dan hari ini banyak kalangan yang bertanya-tanya dan berargumen " kenapa kejadian yang sama tersebut selalu terulang?" seakan moto daerah sulawesi utara "torang samua basudara tidak diberlakukan di tanah ini."
Pertanyaan dan pernyataan yang wajib di pikirkan". Semua mempertanyakan hal tersebut. Ternyata semua orang merasa risih dan bosan dengan situasi seperti itu.
Apa yang akan terjadi di kemudian hari apabila tidak ada jalan keluarnya? Jawabanya adalah seperti yang terjadi hari ini.
Sayapun tertarik untuk coba menggali dan menelusuri hal-hal apa yang harus kita lakukan untuk mempersatukan daerah ini di esok hari.
Pertama, yang timbul di pikiran saya adalah' apakah dengan menciptakan lapangan kerja di daerah ini bisa membantu mengurangi kekacauan yang ada?
Kedua, apakah dengan meningkatkan kualitas pendidikan bisa juga berfungsi membuat ketenangan di dumoga?
Ketiga " tingkat keamanan seperti apa saja yang harus ada di tempat ini agar bisa menciptakan suasana yang kondusif?
Berangkat dari ke tiga pertanyaan tersebut, sayapun coba menjawabnya sendiri.
Pertama ' saya sadari ' lapangan kerja yang ada di daerah ini sangatlah minim, aktifitas mayoritas yang ada sebagai petani dan penambang , belum mampu menopang cara hidup yang memadai di setiap segi. Peran pemerintah sebagai pengendali dana daerah wajib memberikan dan menciptakan lapangan pekerjaan yang sesuai situasi daerah tersebut. Saya faktor ini bisa menjadi peran penting dalam mengurangi keadaan yang tidak selaras di daerah ini. Walupun hanya sedikit, tapi penting.
Kedua' tingkat pendidikan masyarakat di daerah ini perlu diarahkan ke tingkat yang lebih baik ' agar cara pikir dan cara pandang masyarakat yang ada di daerah ini akan menjadi lebih positif dengan wawasan pendidikan yang lebih baik. Karena data yang saya dapat , saat pertikaian pecah, yang dominan mengambil peran adalah mereka yang berusia 20 tahun kebawah. Yang seharusnya mereka-mereka ini adalah generasi yang akan menjadi penerus dalam membangun daerah.
Ketiga' bicara tentang tingkat keamanan ' saya belum pernah menarik dan mendapat kesimpulan kenapa tingkat keamanan di daerah konflik ini sangat memprihatinkan. Markas-markas pelindung masyarakat dan NKRI sama sekali tidak ada di tempat ini.ironisnya tempat-tempat yang seharusnya berada di dataran dumoga , di dirikan di daerah yang potensi konfliknya sangat kecil ,bahkan sampai saat ini pun saya belum pernah mendengar ada konflik di daerah tersebut.
Mungkin itu adalah hal kecil yang harus kita lakukan untuk meminimalisir konflik yang ada di dumoga bersatu.
Semoga tulisan ini bukan hanya sekedar bacaan belaka yang di nilai seperti dongeng, tapi marilah kita mengajak semua pihak untuk mengambil bagian dalam menciptakan hal yang kondusif di daerah kita.
Mototabian mototanoban mototompiaan.
(Oktavianus Singal)
Terngiang kembali di ingatan saya pada awal tahun 1995 , hari dimana seharusnya masyarakat bersuka karena datangnya tahun yang baru, . saya sangat kaget , karena pada saat saya masih berusia 10 tahun saya sudah menyaksikan pertikaian secara langsung terjadi didepan mata saya. Pecah sudah kerusuhan antara dua desa bertetangga antara desa pusian dan desa toruakat. Yang di dalamnya masih terdapat kekeluargaan yang sangat kental.
Setelah di telusuri, kejadian ini pecah karena hal yang sepele. Pengaruh mabuk yang berlebihan hingga menyebabkan kesalapahaman antara kedua belah pihak. Sungguh sangat di sesalkan. Nyawa kita di tukar dengan beberapa gelas alkohol.
Seorang polisi berpangkat bripda yang kebetulan adalah keluarga saya , tidak mampu meredam pertikaian tersebut. Enam butir peluru yang di kantonginya seakan tidak ada fungsinya. Suara teriakan histeris dari anak-anak dan kaum wanita seakan menjadi penyemangat untuk lebih maju kedepan mendapati maut. Satu demi satu korban mulai terkapar, teriakan pun makin riuh mengiang di telinga. Puskesmas yang ada di perbatasan kedua desa yang bertikaipun tidak bisa berbuat banyak , karena tenaga medis yang belum memadai dan tidak seimbang dengan jumlah korban yang terus bertambah.
Cerita tinggal cerita . kenangan pahit di masa itu ternyata hanya sepenggal kejadian yang terus terulang sejak masa lampau khususnya di dataran yang kaya akan padi tersebut. Sebelumnya kita juga pasti sering mendengar pertikaian antara imandi dan tambun, tonom dan ibolian, dan masih banyak lagi desa-desa di dataran tersebut yang mengalami hal yang sama.
Hari ini kembali terjadi kejadian yang sama, antara desa doloduo dan ikhwan. Penyebab dari pertikaian tersebut ternyata tidak ada perbedaannya dengan kejadian-kejadian sebelumnya.
Sungguh ironis buat saya. Apa sebenarnya yang terjadi di daerah dumoga? Di lihat dari kejadian hari kemarin dan hari ini, tidak memiliki keuntungan apa pun baik dari segi moril dan materil. Buah dari peristiwa-peristiwa tersebut hanya menghasilkan permusuhan turun temurun sampai ke anak cucu kita. Mendapati peristiwa kemarin dan hari ini banyak kalangan yang bertanya-tanya dan berargumen " kenapa kejadian yang sama tersebut selalu terulang?" seakan moto daerah sulawesi utara "torang samua basudara tidak diberlakukan di tanah ini."
Pertanyaan dan pernyataan yang wajib di pikirkan". Semua mempertanyakan hal tersebut. Ternyata semua orang merasa risih dan bosan dengan situasi seperti itu.
Apa yang akan terjadi di kemudian hari apabila tidak ada jalan keluarnya? Jawabanya adalah seperti yang terjadi hari ini.
Sayapun tertarik untuk coba menggali dan menelusuri hal-hal apa yang harus kita lakukan untuk mempersatukan daerah ini di esok hari.
Pertama, yang timbul di pikiran saya adalah' apakah dengan menciptakan lapangan kerja di daerah ini bisa membantu mengurangi kekacauan yang ada?
Kedua, apakah dengan meningkatkan kualitas pendidikan bisa juga berfungsi membuat ketenangan di dumoga?
Ketiga " tingkat keamanan seperti apa saja yang harus ada di tempat ini agar bisa menciptakan suasana yang kondusif?
Berangkat dari ke tiga pertanyaan tersebut, sayapun coba menjawabnya sendiri.
Pertama ' saya sadari ' lapangan kerja yang ada di daerah ini sangatlah minim, aktifitas mayoritas yang ada sebagai petani dan penambang , belum mampu menopang cara hidup yang memadai di setiap segi. Peran pemerintah sebagai pengendali dana daerah wajib memberikan dan menciptakan lapangan pekerjaan yang sesuai situasi daerah tersebut. Saya faktor ini bisa menjadi peran penting dalam mengurangi keadaan yang tidak selaras di daerah ini. Walupun hanya sedikit, tapi penting.
Kedua' tingkat pendidikan masyarakat di daerah ini perlu diarahkan ke tingkat yang lebih baik ' agar cara pikir dan cara pandang masyarakat yang ada di daerah ini akan menjadi lebih positif dengan wawasan pendidikan yang lebih baik. Karena data yang saya dapat , saat pertikaian pecah, yang dominan mengambil peran adalah mereka yang berusia 20 tahun kebawah. Yang seharusnya mereka-mereka ini adalah generasi yang akan menjadi penerus dalam membangun daerah.
Ketiga' bicara tentang tingkat keamanan ' saya belum pernah menarik dan mendapat kesimpulan kenapa tingkat keamanan di daerah konflik ini sangat memprihatinkan. Markas-markas pelindung masyarakat dan NKRI sama sekali tidak ada di tempat ini.ironisnya tempat-tempat yang seharusnya berada di dataran dumoga , di dirikan di daerah yang potensi konfliknya sangat kecil ,bahkan sampai saat ini pun saya belum pernah mendengar ada konflik di daerah tersebut.
Mungkin itu adalah hal kecil yang harus kita lakukan untuk meminimalisir konflik yang ada di dumoga bersatu.
Semoga tulisan ini bukan hanya sekedar bacaan belaka yang di nilai seperti dongeng, tapi marilah kita mengajak semua pihak untuk mengambil bagian dalam menciptakan hal yang kondusif di daerah kita.
Mototabian mototanoban mototompiaan.
(Oktavianus Singal)
Rabu, 23 April 2014
Perampok Kursi
Tanggal 9 april 2014 merupakan momentum bersejarah bagi masyarakat BMR . di mana pada hari tersebut masyarakat BMR bisa memberikan 1 kursi untuk DPD RI. Setelah data perhitungan dari 15 kabupaten /kota di sulawesi utara telah menentukan pilihannya untuk menempatkan wakil kita yang kita kenal dengan nama Beni ramdhani sebagai motor aspirasi rakyat bolaang mongondow raya di DPD RI 5 tahun ke depan.
Sayang perjuangan ini belum selesai ,posisi beliau yang ada di 4 besar perolehan suara setelah Maya Rumantir, Ariyanti Baramuli dan Fabian Sarundajang, terancam bisa di manipulasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, saya berani mengeluarkan opini seperti ini berdasarkan fakta dan pengalaman yang ada,. Teringat 10 tahun silam, dimana pada saat itu , masyarakar BMR sudah bergembira karena sudah pasti menempatkan alm.Hi.Djambat Damopolii sebagai salah satu calon DPD RI terpilih untuk mewakili Masyarakat BMR, namun hasil suara tersebut ternyata bisa di manipulasi dengan sangat mudah tanpa ada perlawanan dari masyarakat kita. Hanya sosok yang akrab di sapa bung beni yang berani mengaung di jalan raya kota manado demi membentangkan protes atas perlakuan yang dilakukan oknum-oknum hina tersebut. Tapi apa bisa di kata pemimpin-pemimpin bajingan itu memposisikan masyarakat kita di telapak kaki mereka. Seakan tidak mempunyai harga diri. Demi mempertebal kantong haram mereka , oknum dan lembaga yang terhormat di mata para pencuri itu bersedia melakukan manipulasi. Dengan mengabaikan undang-undang yang ada. Yah benar !yang terjadi saat itu bukanlah mengagungkan filosopi 'maju tak gentar membela yang benar' tapi, ' maju tak gentar membela yang BAYAR'. Biadab sungguh biadab.
Tutup mata dan telinga anda jika anda bukan masyarakat BMR , tidurlah di bawah telapak kaki mereka jika anda merasa tidak memiliki harga diri.
Saat mereka mengaungkan perang harga diri dengan kita, apakah anda hanya akan diam dan menjadi budak demokrasi biadab selamanya?
Cukup, cukup ,cukup .selama ini kita terdiam dalam belenggu para perampok kursi yang seharusnya menjadi hak kita.
Puluhan tahun tanah kita menjadi penyangga hidup masyarakat sulawesi utara , puluhan tahun juga kita di fitnah dan di tuduh menjadi pencuri di tanah sendiri. Emas dan padi yang menjadi kebanggan kita telah dicuri. Inilah saatnya saudaraku!
Mari, mari, mari, !!! saya mengajak kita semua , buka mata dan telinga kita, keluarlah dari telapak kaki mereka, tendang para perusak daerah kita, singkirkan para pemburu rupiah itu dari tanah kita yang tercinta TOTABUAN. Buat mereka gemetar , buat mereka takut,. Naikkan harga diri kita sebagai masyarakat BMR yang berani mengaungkan kebenaran demi anak dan cucu kita.
Bunyi palu yang kita tunggu sudah di depan mata, jangan sampai cita-cita yang sudah dekat dengan genggaman tangan kita lepas. Mari kita tempatkan Beni Rhamdani sebagai aktor yang mewakili BMR di DPD RI . karena hanya dengan adanya beliau , kita bisa mendengar bunyi palu yang kita tunggu selama ini. Yah bunyi palu pengesahan propinsi BMR.
Saya percaya dengan hanya bermatakan tekad dan keberanian sebagai pemuda Totabuan, InsyaAllah saudara-saudara bisa mencicipi hasil perjuangan kita di hari esok.
Merdeka..merdeka.....
Octavianus singal.
Selasa, 22 April 2014
Hasil Pleno KPU KK untuk DPRD Kota Kotamobagu
KOTAMOBAGU – Pleno rekapitulasi perolehan suara pemilu legislative 9 April 2014, yang dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum Daerah Kota Kotamobagu (KPUD KK) telah berakhir.
Pleno yang dimulai pada Minggu 20/04/2014 dan selesai pada Senin 21/04/2014 dinihari ini berjalan lancar.
Berikut adalah perolehan kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kota (DPRD KK) berdasarkan hasil pleno tersebut
Kotamobagu1.Ahmad Sabir-PAN
2.Arman Adati-PAN
3.Alfrits N Paat-PAN
4.Herdy Korompot-Golkar
5.Riana S Mokodongan-Golkar
6.Adrianus Mokoginta-PDIP
7.Feiba A.J Tumundo-Gerindra
8.Danny I Mokoginta-PKB
9.Ishak Sugeha-Demokrat
10.Agus Suprijanta-Hanura
Dapil II (Kotamobagu Selatan)
1.Bob Paputungan-PAN
2.Mulyadi Paputungan-Demokrat
3.Yusran Mokolanut-PKB
4.Rendi Mangkat-Golkar
5.Meydi Makalalag-PDIP
6.Kadir Rumoroy-PKS
Dapil III (Kotamobagu Barat)
1.Steward Adityo Pantas-PAN
2.Beggie Gobel-PAN
3.Fachrian Mokodompit-Golkar
4.Djelantik Mokodompit-Golkar
5.Suharsono Marsidi-Hanura
6.Diana Roring-PDIP
7.Reggie Manoppo-Demokrat
8.Herry Frangky Coloay-Gerindra
9.Jufri Limbalo-PKS
Sumber: KPUD Kotamobagu
Sebuah batu kecil ...
"seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat pada tembok yang sangat tinggi. pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada kawan kerjanya yang berada di bawah.
Pekerja tersebut berteriak - teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.
Oleh karena itu, untuk menarik perhatian temannya yang berada jauh dibawahnya, ia mencoba melemparkan koin uang logam didepan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang logam tersebut lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama.
Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya kearah teman yang ada di bawah. Batu itu pun jatuh tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya yang dibawah menengadahkan kepala keatas. Sekarang pekerja tersebut dapat memberikan pesan catatan kepada kawannya di bawah."
________
Tuhan kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. seringkali Tuhan melimpahkan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepada-Nya.
Sahabatku,,,"batu kecil" yang dilemparkan tadi bisa jadi merupakan peringatan kepada kita agar kita tidak selalu "sibuk" dengan urusan-urusan dunia...hm....terkadang kitapun selalu "lupa" bersyukur kepada Nya,,,"koin-koin" yang awalnya dilemparkan tersebut merefleksikan rahmat, rejeki, kesempatan, kelegaan, kesehatan, kemudahan, tetapi itu terkadang tidak membuat kita "menengadah" kepada Nya...akhirnya Tuhan melemparkan sebuah batu kecil kepada kita,,, [SUMBER MARIO TEGUH]
semoga dengan ini menjadikan kita Hamba-Hamba yang pandai mensyukuri Nikmat-Nikmat-Nya,,,dan walau kita ditimpa "batu kecil" kita tetap sabar,berdoa dan berharap Allah berbuat demikian karena Dia merencanakan kebaikan buat kita kelak,,,dan menjadikan kita manusia yang bertaqwa ... aamiiin ...
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)


